2,5 Hari Tanpa HP, Detox dari “Racun” Dunia Maya?

https___www.lifeofpix.com_wp-content_uploads_2015_04_Life-of-Pix-free-stock-photos-Amsterdam-train-people-sunshine-flare-boy-Joshua-earle
Ilustrasi: Naik kereta jangan nunduk mantengin HP terus, sambil liatin jalanan enak juga.

Dua setengah hari kemarin nyobain hidup tanpa henpon. Bukan nerima tantangan dari netijen, kayak YouTuber gitu sih. Lebih karena HP rusak aja.

Terus iseng mau berbagi rasa dan pengalaman. Boleh ya?

Sebelumnya mau kasih tau dulu, biasanya gue pake HP buat kerjaan (boong, sok workaholic). Yang bener, gue pake HP kebanyakan untuk chatting (personal & kerjaan), buka socmed, nonton YouTube, browsing, buka email, GoJek, Spotify.

Aktivitas gue kebanyakan emang lebih ke konsumsi socmed sih, plus chatting. Satu lagi, yang sering dilakuin tapi DENGAN TERPAKSA adalah nerima dan membuka notifikasi grup chat yang bejibun.

“Kalo ganggu kenapa dibuka?” gitu kan pertanyaan netijen biasanya? Baik, jawabannya: Karena gue lebih suka HP gue bersih dari notif. Cukup jelas? (Nadanya gak nyolot, kok.)

Sekarang lanjut ke pengalaman smartphone-free selama 2,5 hari. Jadi ceritanya 3 hari lalu HP gue mati mampus. Mengetahui musibah ini, surprisingly gue merasa tetap legowo. Gak resah-resah amat kayak pas lagi quarter-life-crisis gitu sih.

Sedikit heran juga gue, soalnya gue merasa cukup ketergantungan sama smartphone. Dalam sehari, bisa 8 jam lebih mantengin HP, dengan aktivitas penting-gak penting.

Nyatanya, selama menjalani kehidupan tanpa HP gue nyaman-nyaman aja. Pas naik kereta gak bosen-bosen amat, malah enak bisa bengong merenungi kehidupan, atau mengamati jalanan sepanjang Tanjung Barat – Palmerah sambil “nandain” spot kuliner yang menarik.

Atau merhatiin tulisan di tembok/angkot/truk yang kadang meme material banget. Tapi gak punya HP buat motret jadi ya gak bisa memperkaya konten Insta Stories juga, sih. Ya bodo amat, yang penting gue tetap punya hiburan juga selama bosen di perjalanan.

Terus, yang lebih GONG, jujur gue selama ini kayak love-hate relationship sama socmed gitu, sih. Suka banget konsumsi socmed buat hiburan dan ngepoin orang, tapi abis itu down karena merasa hidup gue sangat amat tidak bermanfaat dan gak asik sama sekali bila dibandingkan dengan senyumanmu –Meggy Z orang lain.

Jadi selama HP gue mati mampus otomatis gue gak mengisi waktu luang dengan buka socmed, dong. Gak liat orang-orang ngapain. Jadi ya gue nyaman aja menjadi diri sendiri, karena gak ada tekanan untuk “kejar-kejaran” sama orang lain.

Nah yang MEGA-GONG adalah gue terbebas dari pesan gak penting, yang sumber utamanya dari grup-grup yang kadang gak secara sukarela gue ikutin. Masalahnya, maap-maap nih ya, yang gitu-gitu gak jarang mengandung “racun”. Gosip, gibah-in orang, komen nyinyir, candaan ofensif, pamer sana-sini, sampai pesan berantai info kesehatan yang gak jelas sumbernya. DUH.

2,5 hari detox dari ginian sih lumayan banget ya memperbaiki kerutan-kerutan di wajah. Ya walau jerawat juga masih ada, sih, gak ngerti deh itu gak ada kaitannya sama pesan “racun” atau emang gejolak hormon aja. (Gak nyambung).

Manfaat positif yang paling berasa adalah, waktu gue gak kebuang sia-sia untuk liatin postingan orang atau ngebaca pesan “racun”. Biasanya abis pulang kantor ngaso dulu sampe 2 jam kemudian baru mandi, terus kemarin jadi bisa lebih gercep gitu. Nyampe rumah langsung makan, mandi, ngeringin rambut, dan tidur lebih cepet (Mimpinya bagus pula #tidakpenting).

Persiapan berangkat pagi juga lebih sigap, gak keburu-buru, karena biasanya kelamaan liat-liat HP dulu.

Namun yang agak gue sesali adalah gak bisa pesen GoJek buat pergi-pulang. Alhasil kudu kembali naik angkot dan jalan kaki lebih banyak kayak zaman awal-awal masuk kerja dulu.Waktu perjalanan jadi lebih lama sih, tapi gak masalah kok, itung-itung bagi-bagi rezeki ke abang angkot yang sudah lama gue tinggal pergi, plus nostalgia dikit.

Kebetulan, HP gue rusak pas masa Prapaskah dan Nyepi, masa-masa pertobatan dan membersihkan diri (Eh bener gak sih begitu? Kalau salah tulis komen aja yaa). Jadi gue menganggap pengalaman ini sebagai cara kecil untuk ikut menjalani masa yang baik ini.

 

Ilustrasi dari sini.

 

Advertisements

Jebakan Konsumerisme Pilkada

fish-fillet-with-french-fries_1220-651
Ilustrasi. Sumber: Freepik.com

Momen Pilkada atau Pilgub DKI Jakarta atau berbagai bentuk pemilihan umum lainnya belakangan nggak hanya jadi pesta demokrasi, tetapi juga pesta makan di sana-sini. Sejumlah tempat makan ramai-ramai kasih potongan harga, bonus beli 1 gratis 1, atau apapun itu lah. Pokoknya judulnya promo yang (katanya) nyenengin dan nguntungin konsumen.

Di situs Qraved.com aja, udah ada 15 tempat makan yang punya promo menggiurkan pada hari Pilkada. Rappler juga merilis daftar restoran dengan promo menarik selama Pilkada.

Memang, sih, sekilas dibaca, promonya menarik banget. Jarang-jarang bisa beli 12 crunchy wings-nya Wingstop dengan harga Rp 60.000 aja. Atau beli 1 parfait di Shirokuma, dapet gratis 1 parfait lagi.

Cara dapetinnya pun gampang. Tinggal tunjukkan jari yang sudah dicelup tinta biru, sebagai tanda kalau kamu sudah ikutan Pilkada dan memilih kepala daerahmu.

“Kapan lagi, neeeeh?!”

“Ke Kokas, yuk!! Mumpung banyak yang diskon!”

Apalagi memang tanggal 15 Februari 2017—hari pencoblosan–itu ditetapkan sebagai hari libur. Seakan-akan melegitimasi orang-orang untuk pergi ke mal, lalu antre di gerai Wingstop, Shirokuma, dan sebagainya.

Saya adalah korbannya. Hehehe. Mata saya berbinar-binar begitu lihat deretan promo dari sejumlah gerai makanan kesukaan saya. Tanpa pikir panjang saya langsung memanfaatkan kesempatan itu.

Padahal kalau dipikir-pikir, habis nyoblos saya nggak harus makan Wingstop di mal, lho. Saya juga nggak perlu-perlu amat beli dessert dari Shirokuma, lho. Apalagi, hari libur gini biasanya mama juga masak buat orang serumah, lho.

Tapi ya karena itu tadi, mumpung murah, mumpung ada bonusnya, mumpung libur juga, saya merasa harus pergi ke mal supaya bisa nyicipin sedapnya makanan dan minuman enak yang lagi diskon. Aji mumpung.

Bagi pengusaha atau ritel makanan, momen Pilkada atau Pemilu memang jadi kesempatan untuk meraih pendapatan sebesar-besarnya. Dalihnya, ini merupakan reward buat masyarakat karena sudah menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara untuk memilih pemimpin yang tepat buat daerahnya. Padahal mungkin momen Pilkada ini dimanfaatkan para pengusaha buat mendorong penjualan aja, sih. (Curigaan mode: ON)

Tapi buat konsumen yang nggak bijak kayak saya, ini namanya jebakan, nih! Jebakan konsumerisme Pilkada. Hahaha. Soalnya saya lemah, gampang tergiur diskon makanan enak. Kalau dicoba semua, tekor dong? Tanggal tua pula ini! Hihi.

Jadi mungkin sebaiknya kita harus kontrol diri nih, jangan sampai terjebak diskon ini itu selama Pilkada, terus akhirnya kelabakan sendiri karena dompet tipis sampai tanggal gajian selanjutnya. (Sok bijak :-D)

Masinis Commuter Line dan Permintaan Maaf yang Kosong

Saya adalah salah satu roker (akronim dari rombongan kereta), sebutan untuk orang-orang yang selalu naik kereta untuk berangkat dan pulang beraktivitas.

Selama hampir dua tahun naik Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line jurusan Bogor – Tanah Abang dan sebaliknya secara rutin, saya mengalami begitu banyak hal, dari yang paling lucu sampai yang paling bikin marah.

Satu yang paling lucu adalah… saya jadi sadar bahwa masinis atau asisten masinis atau mas-mas/mbak-mbak pengumuman KRL Commuter Line adalah orang yang paling sering minta maaf sama saya.

Setiap roker pasti familiar dengan kalimat ini, “Mohon maaf saat ini KRL belum bisa diberangkatkan karena masih menunggu antrean masuk Stasiun Manggarai.”

Lalu kami, penumpang Commuter Line yang duduk atau berdiri dengan posisi yang memprihatinkan di dalam gerbong, mesti menunggu selama sekitar 10-20 menit sampai si Commuter Line jalan lagi. Selama itulah kami mendengar permohonan maaf masinis dan kawan-kawannya berulang kali.

Roker pun bergumam.

Karena hampir tiap hari minta maaf, saya jadi merasa permintaan maaf masinis itu kosong. Padahal, menurut saya kata “maaf” itu sakral, lho.

Kalau di KBBI, maaf berarti ungkapan permintaan ampun atau penyesalan. Jadi kata “maaf” semestinya diucapkan dengan penuh kerendahan hati. Tapi sayangnya permintaan maaf masinis/petugas Commuter Line rasanya seperti formalitas yang tidak berarti. Hanya template yang diucapkan tanpa intonasi.

Lalu apakah permintaan maaf itu menjadi solusi? Tentu saja tidak.

Berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk menunggu kereta berjalan normal lagi? Berapa banyak roker terlambat sampai ke kantor atau tempat tujuannya? Berapa banyak kesempatan yang hilang karena keterlambatan?

Saya tidak tahu persis siapa yang salah. Mungkin bukan masinis atau petugas lainnya, tetapi pihak-pihak lain yang tak tampak. Mungkin masinis dan petugas Commuter Line hanya terpaksa meminta maaf, untuk sedikit menenangkan hati penumpang (walau tetap tidak tenang juga sih). Jadi ya.. nggak heran juga kalau permintaan maafnya terdengar seperti template.

Ya sudah lah. Kalau ngomong soal hikmahnya, saya jadi tahu di mana dan bagaimana saya bisa mempraktikkan ajaran agama saya untuk “…mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Ya di sini tempatnya. Mungkin dengan mulai mengampuni petugas-petugas Commuter Line yang punya “andil” dalam keterlambatan roker di seluruh Jabodetabek, saya bisa belajar untuk mengampuni orang-orang lain yang lebih brengsek (jika ada).

By the way, abis nulis gini saya jadi takut. Takut habis ini ada yang komen, “Udah deh, naik kereta dari rumah lu ke kantor tuh cuma dua ribu! Nggak usah ngeluh!”

He he he.

 

 

 

 

 

Terintimidasi Kata ‘Keren’

Barusan saya tidak sengaja mendarat di sebuah situs yang memuat cerpen-cerpen. Tapi ada satu artikel di luar cerpen yang sedikit bikin penasaran. Judulnya kurang lebih: Tips untuk Kirim Cerpen Supaya Bisa Dimuat.

“Klik.”

Di halaman itu ada beberapa poin yang kudu dilakukan penulis supaya cerpennya bisa dimuat. Poin terakhir, katanya: “Paragraf-paragraf akhir dan kalimat penutup harus keren.” Udah. Gitu aja.

Keren. Harus keren, katanya. Seperti apa keren itu?

Keren menurut saya dan Anda bisa jadi jauh berbeda. Paragraf penutup yang keren menurut saya bisa jadi sekadar cerita yang tak menggantung, jelas, tidak menimbulkan kebingungan, menjawab semua pertanyaan pembaca yang muncul dari awal cerita. Tapi bisa jadi keren menurut Anda adalah  memberi twist yang tak terduga-duga di akhir cerita, sampai semua orang bisa berkata “Gila!”; “Wah!”; dan sebagainya…

“Paragraf-paragraf akhir dan kalimat penutup harus keren.” Baca kalimat itu saya jadi terintimidasi.

Kadang-kadang dituntut untuk keren itu menakutkan. Saya atau mungkin orang lain yang senasib dengan saya jadi merasa tak bebas menulis, berekspresi, atau berkarya dalam bentuk apapun itu. Sebab, ada rasa takut karya saya tak keren seperti yang diharapkan orang-orang. Akhirnya tidak ada yang menampung, memuat, dan ujung-ujungnya ya… disimpan saja sampai berjamur.

Lama-lama seperti menyiksa diri sendiri. Ragu bikin ini atau itu karena takut hasilnya nggak keren, nggak laku, nggak diapresiasi. Kalau gitu terus kapan geraknya?

Mungkin frasa ‘cuek bebek’ tepat digunakan untuk masa-masa ini.. Masa-masa mau bikin sesuatu tapi terintimidasi duluan sama kata ‘keren’ atau ‘harus keren’.

 

Gara-gara Ponsel

“Ah.. sedih banget sih masih pada bisa liat hp, gue enggak,” keluh seorang teman saat perjalanan pulang dari Grand Indonesia ke rumahnya kemarin malam. Nggak lama dia ketawa dengar keluhannya sendiri.

Jadi ceritanya kemarin malam ponsel teman saya itu mati total karena baterainya habis. Alhasil, selama sekitar 60 menit perjalanan pulang dia “mati gaya” hahaha. Sementara, saya dan satu teman lain asyik menatap layar ponsel. Aktivitasnya membalas chat, mengecek social media, dan melihat foto-foto di galeri.

Sehabis dengar celetukan teman saya di atas itu, saya ketawa, tergelitik, terus jadi ngerenungin ucapan dia. Betapa orang macam saya dan teman-teman saya ini ketergantungan banget sama yang namanya ponsel pintar. Sehari atau bahkan beberapa jam tanpa mengecek ponsel tuh rasanya hampa. Ada yang kurang. Ada yang hilang. Ada yang direnggut. Hahaha apaan sih.

Terus saya jadi geli sendiri. Kenapa bisa gitu. Gara-gara ponsel saya jadi lupa sama apa yang ada di sekitar. Gara-gara sibuk mengonsumsi ponsel, saya jadi lupa ada teman –yang lagi nggak tahu mau ngapain—duduk persis di sebelah saya.

Peduli

Iya, dengan pakai ponsel saya tuh tetap peduli sebenarnya. Tapi, pedulinya sama hal-hal yang jauh di sana. Saya balas obrolan teman yang lagi di Bekasi, saya nge-love posting Path saudara saya yang lagi jalan-jalan di Yogya, saya nge-like foto bernuansa vintage –dari orang bule yang bahkan nggak saya kenal—di Instagram.

Tapi saya nggak peduli sama teman saya yang lagi bengong di sebelah saya, nggak ada yang ngajak ngobrol. Atau kasus lain, saya jadi lupa matiin keran bak mandi yang airnya sudah meluber, saya nggak bantuin mama yang lagi nyuci piring, saya duduk diam di sofa saat bapak saya angkat-angkat meja tamu yang lagi mau diberesin, saya nggak tahu kalau warung makan tenda favorit saya lagi sepi pengunjung karena ada rumah makan baru di sekitarnya, dan saya juga nggak tahu kalau orang di samping saya lagi menahan berat badan saya, karena saya secara nggak sadar nyender ke badan dia waktu lagi asyik liat-liat linimasa Twitter di gerbong Commuter Line. Gara-gara sibuk memedulikan dunia luar lewat smartphone, saya jadi lupa untuk peduli sama hal yang paling dekat.

Jadi, terima kasih temanku. Celetukanmu menyadarkanku hahaha. Ada baiknya memang saya kurangi natap layar ponsel. Selain bikin mata capek dan kepala pusing, saya juga nggak mau kehilangan rasa peduli ke orang-orang atau keadaan sekitar, yang paling dekat sama saya. Yok ah!

Tips ke Pasar Santa

Siapa yang belum pernah dan pengin ke Pasar Santa? Ngacung. Hayo ngaku, pasti penasaran kan sama pasar yang namanya lagi melejit ini?

Belakangan ini Pasar Santa memang jadi buah bibir warga Jakarta. Pasar ini sebenarnya udah lama berdiri di daerah Kebayoran, Jakarta Selatan. Dulu sempat redup, tapi sekarang naik daun lagi karena banyaknya kios-kios menarik yang dibangun atas inisiatif anak-anak muda ibu kota. Di lantai atas pasar ini, Anda bisa nemu makanan-minuman lucu, kaos-kaos, CD dan vinyl, sampai jasa spa.

Untuk bisa mencicipi suasana Pasar Santa dengan nikmat, ada baiknya Anda ikuti beberapa tips ini. Namanya juga ke pasar, jalan-jalan di sana nggak akan senyaman di mall yang adem atau taman yang luas medannya. Tips-tips ini adalah pelajaran yang saya petik dari kunjungan singkat ke Pasar Santa kemarin, Sabtu (10/01/2015) hehehe.

1. Naik kendaraan umum

Yang utama, sebaiknya pergi ke Pasar Santa dengan kendaraan umum atau jalan kaki dari mana gitu 🙂 karena apa? Kalau bawa kendaraan pribadi cari parkirnya setengah mati, sis. Apalagi kalau Anda ke sana pas weekend. Waduh bisa lamaan cari parkirnya daripada makannya 🙂 Udah gitu, ada area parkir yang cuma bisa dipakai sampai pukul 15.00. Setelah jam segitu, kendaraan yang parkir di situ kudu pindah ke lahan lain yang kosong. Kalau Anda parkir di situ, bisa-bisa Anda nggak tenang tuh di dalam pasar hehehe.

2. Pakai baju adem

Nggak ada pendingin ruangan (AC) di dalam Pasar Santa dan kios-kiosnya. Ada sih kios yang pakai AC, tapi cuma sedikit. Kebanyakan kios menyediakan kipas angin supaya pengunjung nggak kegerahan. Ditambah lagi, pengunjung pasar ini buanyaak jumlahnya. Padat deh di dalam. Itu sebabnya, pakai baju, celana/rok berbahan adem, yang nyerap keringat. Kalau perlu bawa juga kipas tangan atau handuk kecil supaya Anda tetap tampil kece, terbebas dari tetesan keringat 😉

3. Survei

Sebelum berangkat, mending cek dulu di internet atau tanya-tanya teman yang sudah pernah ke sana, kira-kira kios apa yang paling menarik buat Anda. Kios di sana super banyak dan semuanya terlihat menarik banget. Kalau sudah tahu kios mana yang paling recommended, Anda nggak akan terlalu bingung menjatuhkan pilihan untuk cicip atau masuk ke kios yang mana 😀

4. Cash/debit nggak masalah

Banyak kios di sana yang punya mesin EDC yang memungkinkan Anda bayar transaksi dengan kartu debit. Jadi, kalau nggak mau bawa uang tunai banyak-banyak nggak masalah kok, asal kartu debit Anda ada saldonya, ya! Hehehe.

5. Main juga ke kios di bawah

Pasar Santa memang bangkit lagi gara-gara bisnis inovatif dan kreatif di lantai atas. Tetapi, jangan lupa kalau di lantai bawah masih banyak pedagang baju, mainan, alat elektronik, dan lain-lain yang juga mengharapkan keuntungan dari kedatangan kita ke sana. Kali aja ada yang butuh beli baju anak-anak buat adik atau keponakan? Di lantai atas nggak ada yang jual, lho. Jadi, coba saja intip ke lantai bawah. Siapa tahu ada yang memikat hati 🙂

Hmm, kayaknya itu aja deh tips terpenting ke Pasar Santa (versi saya). Selebihnya, silakan nikmati sendiri suasana intim dan menyenangkan di sana! 🙂

Apakah Benar Orang Jakarta Pemarah?

Ada hal-hal yang sudah lazim ditemukan di Jakarta. Di antaranya:

1. Bunyi klakson kendaraan bersahut-sahutan dan beriringan

2. Umpatan-umpatan kasar, seperti “Anj**g lo!” atau “Ban*sat lo!”

Keduanya adalah ungkapan kemarahan yang sering muncul di jalanan Jakarta saat lagi ruwet-ruwetnya. Keduanya juga barusan saya dengar dan lihat sendiri.

Saya yang lagi duduk setengah ngantuk dalam mikrolet, kaget dan sedikit terganggu karena bunyi klakson panjang dari mobil pribadi di belakang. Rupanya kendaraan yang saya naiki berada di jalur yang salah, sehingga menghalangi perjalanan kendaraan lainnya. Nggak lama, mobil itu bisa jalan lagi hingga posisinya bersebelahan dengan angkot yang saya naiki. Pengemudinya yang masih muda kemudian membuka kaca jendela mobilnya, lalu memaki supir mikrolet dengan umpatan kasar yang tertulis di atas, kemudian berlalu. Pengemudi mikrolet yang saya tumpangi nggak balas memaki, hmm mungkin karena sadar diri bahwa dirinya salah. Tapi tetap saja ia menggerutu, mungkin agak sakit hati karena dimaki.

Kemarahan sejenis ini nggak cuma sekali. Di commuter line, di bus, di jalan umum, ada saja orang yang nggak bisa membendung emosi. Lebaynya, bagaikan tiada hari tanpa amarah di Jakarta. Hahaha, kok menyeramkan ya.

Memang sih, Jakarta itu rumit. Jalanannya, penduduknya, transportasinya, kehidupan sosialnya.. semua kompleks. Rasanya memang nggak mudah hidup di Jakarta. Harus bisa dan mau usaha keras. Makanya sampai ada ungkapan “Jakarta keras”. Itu kali ya yang bikin orang Jakarta lebih emosional?

Kalau tiap hari melihat orang marah begini, saya jadi bertanya-tanya, apa benar orang Jakarta itu pemarah? Atau pemarah situasional? Atau gimana menurut Anda? 🙂