Q & A: Sigit Pramudita (Tigapagi)

Menyambung postingan sebelumnya, ini merupakan potongan obrolan dengan Sigit dari Tigapagi setelah mereka tampil di panggung Joyland Festival 2013. Selamat membaca!

 

Konsep album?

Konsepnya sebenernya ceritanya tentang perjalanan hidup dan waktu yang terus berjalan tanpa henti. Makanya di situ ada satu track yang terus nyambung. Waktu kan nggak ada jeda, dia jalan terus gitu makanya dibikin satu track.

Sosok Roekmana?

Pengambilan nama Roekmana sendiri dari seorang mentor kita di Tigapagi. Cuma di album Roekmana’s Repertoire itu dia jadi tokoh utama. Kalau dianggap album itu adalah film gitu, ada tokoh utama  yang namanya diambil dari nama seseorang. Dialami oleh Roekmana.

Latar suasananya itu tahun ’65, kenapa?

Karena buat kita dan buat semua rakyat Indonesia  mungkin sebenarnya kalau disadari sebenarnya selain Proklamasi tahun ’45, tahun ’65 ada sesuatu yang sangat penting buat semuanya. Baik buruk, maksudnya baik dari segi buruk ataupun baik, tapi tahun ’65 punya peran tersendiri dalam mengubah.. sama kuatnya dengan Proklamasi, buat kita.

Kenapa empat belas lagu jadi satu track?

Ya karena tadi sih, konsepnya mengenai perjalanan waktu. Karena waktu jalan terus, kita bisa memberhentikan aktivitas kita, tapi waktu terus jalan.  Waktu nggak ada jeda, kan jadi kita nggak bisa pause dulu. Jadi konsepnya kayak gitu.

Konsep satu track ini kan masih agak jarang di sini, pernah ada komentar-komentar seru?

Ada kok banyak, kayak konsep album satu track ini memang masih belum lazim gitu ya. Cuma sebenarnya sudah lazim. Kalau kita lihat zaman kaset, kita nggak bisa pilih track. Kita denger dari lagu pertama sampai lagu terakhir, lalu ganti side gitu. Zaman piringan hitam juga gitu. Sebenarnya nggak jadi masalah gitu. Cuma kenapa di zaman multimedia mungkin… Ya gimana kalau dicoba dibiasakan digital tapi semi-semi analog. Ada sih komentar kayak ‘wah gue beli satu album cuma satu lagu doang’. Cuma ya nggak papa, itu jadi seru aja sih.

Nggak takut akan mengurangi intensitas diputer di radio gitu, karena ribet di-play?

Enggak sih kita sebenarnya udah menyediakan satu single, buat radioplay, yaitu Alang-Alang itu. Nah sisanya dengerin aja di rumah lewat CD-nya gitu. Mungkin nanti ada single berikutnya yang ada di dalam album, tapi kita rekam ulang. Jadi beda yang ada di album sama CD kita.

Kendala bikin album bisa sampai lima tahun?

Ya itu tadi, kita nyambunginnya, kan bikin aransemen.. Nah ngegodok aransemennya, ngegodok konsep di albumnya, konsep kemasannya, belum lagi masalah finansial, tahu-tahu nggak ada duit, tiba-tiba pindah studio, itu yang bikin jadi lama.

Soal keterlibatan musisi lain? Ada pertimbangan nggak musisi ini di lagu apa?

Memang jadi Tigapagi memang lebih ke menulis lagu. Saya sendiri nyanyi karena nggak ada lagi yang mau nyanyi gitu sebenarnya (tertawa). Jadi ketika saya nulis lagu memang udah kebayang ketika lagu itu diciptakan.. Alang-Alang misalnya, Ade Paloh (SORE) yang nyanyi. Itu memang udah kebayang bahwa dia yang akan nyanyi nanti. Begitu juga Pasir, ini Cholil (Efek Rumah Kaca) akan menyanyikan lagu ini, gimana caranya kita akan memohon. Akhirnya memang dengan baik hati gitu mereka mau. Jadi dari awal penciptaan lagu tersebut udah diciptakan buat mereka gitu. Buat Cholil, Aji Gergaji dari The Milo, sama Ida Paramita Saraswati (Nada Fiksi), sama Ade Paloh memang lagu-lagu tersebut udah dipersiapkan buat mereka.

Artwork albumnya apakah emang nyambung sama lagunya?

Jadi emang kita sih seolah-olah emang bikin film. Jadi desainernya ya DOP-nya, bikin storyboard dan segala macem. Jadi kita brainstorming sama namanya Obscura Oddities. Kita brainstorming lumayan lama.. ada tiga atau empat bulan buat ngegodok si pengemasan dan desain album itu agar pas sama isinya gitu. Jadi emang direncanakan seperti itu, semuanya emang digodok dulu sebelum akhirnya rilis.

Pesan yg ingin disampaikan melalui album?

Ada, seperti yang biasa kita sampaikan bahwa semoga adanya album Roekmana’s Repertoire ini dapat memberikan manfaat bagi pendegarnya, dan kita mohon doa restu agar Tigapagi bisa tetap berkarya sampai nantilah habis usia kita..

Buat pendengar sih dengan mendengar itu, dia misalnya jadi terbuka pikiran atau apapun lah. Manfaat bisa apapun gitu.. jadi asalnya dia berpikir sesuatu ini nggak baik, jadi baik. Yang kayak gitu lah. Kalau buat Tigapagi-nya sendiri manfaatnya adalah kita bisa berbagi cerita lah, silaturahmi sih. Melalui album itu jadi silaturahmi gitu sih intinya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s