Masinis Commuter Line dan Permintaan Maaf yang Kosong

Saya adalah salah satu roker (akronim dari rombongan kereta), sebutan untuk orang-orang yang selalu naik kereta untuk berangkat dan pulang beraktivitas.

Selama hampir dua tahun naik Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line jurusan Bogor – Tanah Abang dan sebaliknya secara rutin, saya mengalami begitu banyak hal, dari yang paling lucu sampai yang paling bikin marah.

Satu yang paling lucu adalah… saya jadi sadar bahwa masinis atau asisten masinis atau mas-mas/mbak-mbak pengumuman KRL Commuter Line adalah orang yang paling sering minta maaf sama saya.

Setiap roker pasti familiar dengan kalimat ini, “Mohon maaf saat ini KRL belum bisa diberangkatkan karena masih menunggu antrean masuk Stasiun Manggarai.”

Lalu kami, penumpang Commuter Line yang duduk atau berdiri dengan posisi yang memprihatinkan di dalam gerbong, mesti menunggu selama sekitar 10-20 menit sampai si Commuter Line jalan lagi. Selama itulah kami mendengar permohonan maaf masinis dan kawan-kawannya berulang kali.

Roker pun bergumam.

Karena hampir tiap hari minta maaf, saya jadi merasa permintaan maaf masinis itu kosong. Padahal, menurut saya kata “maaf” itu sakral, lho.

Kalau di KBBI, maaf berarti ungkapan permintaan ampun atau penyesalan. Jadi kata “maaf” semestinya diucapkan dengan penuh kerendahan hati. Tapi sayangnya permintaan maaf masinis/petugas Commuter Line rasanya seperti formalitas yang tidak berarti. Hanya template yang diucapkan tanpa intonasi.

Lalu apakah permintaan maaf itu menjadi solusi? Tentu saja tidak.

Berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk menunggu kereta berjalan normal lagi? Berapa banyak roker terlambat sampai ke kantor atau tempat tujuannya? Berapa banyak kesempatan yang hilang karena keterlambatan?

Saya tidak tahu persis siapa yang salah. Mungkin bukan masinis atau petugas lainnya, tetapi pihak-pihak lain yang tak tampak. Mungkin masinis dan petugas Commuter Line hanya terpaksa meminta maaf, untuk sedikit menenangkan hati penumpang (walau tetap tidak tenang juga sih). Jadi ya.. nggak heran juga kalau permintaan maafnya terdengar seperti template.

Ya sudah lah. Kalau ngomong soal hikmahnya, saya jadi tahu di mana dan bagaimana saya bisa mempraktikkan ajaran agama saya untuk “…mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Ya di sini tempatnya. Mungkin dengan mulai mengampuni petugas-petugas Commuter Line yang punya “andil” dalam keterlambatan roker di seluruh Jabodetabek, saya bisa belajar untuk mengampuni orang-orang lain yang lebih brengsek (jika ada).

By the way, abis nulis gini saya jadi takut. Takut habis ini ada yang komen, “Udah deh, naik kereta dari rumah lu ke kantor tuh cuma dua ribu! Nggak usah ngeluh!”

He he he.

 

 

 

 

 

Advertisements

Gara-gara Ponsel

“Ah.. sedih banget sih masih pada bisa liat hp, gue enggak,” keluh seorang teman saat perjalanan pulang dari Grand Indonesia ke rumahnya kemarin malam. Nggak lama dia ketawa dengar keluhannya sendiri.

Jadi ceritanya kemarin malam ponsel teman saya itu mati total karena baterainya habis. Alhasil, selama sekitar 60 menit perjalanan pulang dia “mati gaya” hahaha. Sementara, saya dan satu teman lain asyik menatap layar ponsel. Aktivitasnya membalas chat, mengecek social media, dan melihat foto-foto di galeri.

Sehabis dengar celetukan teman saya di atas itu, saya ketawa, tergelitik, terus jadi ngerenungin ucapan dia. Betapa orang macam saya dan teman-teman saya ini ketergantungan banget sama yang namanya ponsel pintar. Sehari atau bahkan beberapa jam tanpa mengecek ponsel tuh rasanya hampa. Ada yang kurang. Ada yang hilang. Ada yang direnggut. Hahaha apaan sih.

Terus saya jadi geli sendiri. Kenapa bisa gitu. Gara-gara ponsel saya jadi lupa sama apa yang ada di sekitar. Gara-gara sibuk mengonsumsi ponsel, saya jadi lupa ada teman –yang lagi nggak tahu mau ngapain—duduk persis di sebelah saya.

Peduli

Iya, dengan pakai ponsel saya tuh tetap peduli sebenarnya. Tapi, pedulinya sama hal-hal yang jauh di sana. Saya balas obrolan teman yang lagi di Bekasi, saya nge-love posting Path saudara saya yang lagi jalan-jalan di Yogya, saya nge-like foto bernuansa vintage –dari orang bule yang bahkan nggak saya kenal—di Instagram.

Tapi saya nggak peduli sama teman saya yang lagi bengong di sebelah saya, nggak ada yang ngajak ngobrol. Atau kasus lain, saya jadi lupa matiin keran bak mandi yang airnya sudah meluber, saya nggak bantuin mama yang lagi nyuci piring, saya duduk diam di sofa saat bapak saya angkat-angkat meja tamu yang lagi mau diberesin, saya nggak tahu kalau warung makan tenda favorit saya lagi sepi pengunjung karena ada rumah makan baru di sekitarnya, dan saya juga nggak tahu kalau orang di samping saya lagi menahan berat badan saya, karena saya secara nggak sadar nyender ke badan dia waktu lagi asyik liat-liat linimasa Twitter di gerbong Commuter Line. Gara-gara sibuk memedulikan dunia luar lewat smartphone, saya jadi lupa untuk peduli sama hal yang paling dekat.

Jadi, terima kasih temanku. Celetukanmu menyadarkanku hahaha. Ada baiknya memang saya kurangi natap layar ponsel. Selain bikin mata capek dan kepala pusing, saya juga nggak mau kehilangan rasa peduli ke orang-orang atau keadaan sekitar, yang paling dekat sama saya. Yok ah!

Senin Senang Punya Presiden Baru

Selalu ada hal yang bisa disyukuri setiap hari. Di balik panasnya Senin pagi ini contohnya, ada hadiah berupa Presiden dan Wakil Presiden baru buat Indonesia. Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla.

Kompas.com / FIKRIA HIDAYAT - KRISTIANTO PURNOMO
Kompas.com / FIKRIA HIDAYAT – KRISTIANTO PURNOMO

Rasanya ini awal minggu yang baik. Awal minggu dengan harapan baru. Iya, saya jelas berharap banyak sama Pak Jokowi-JK (kalau gak berharap gak mungkin saya coblos pas PEMILU lalu, hehe) untuk membawa perubahan baik buat tanah air.

Jujur saja, dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden periode 2014-2019 hari ini jadi hal menyenangkan yang mampu naikin mood. Pasti bukan cuma saya yang seneng. Lihat saja foto-foto lautan manusia yang lagi untuk menyambut arak-arakan Jokowi-JK ke acara #SyukuranRakyat. Kegembiraan pasti kerasa banget di sana. Seakan-akan enggak peduli panas terik, rakyat rela menanti pemimpin baru Indonesia menghampiri. Saya kalau bisa juga pengin ke situ. Makan bakso dan mie ayam gratis.

Tugas berat sudah ada di depan mata Pak Jokowi-JK. Memang nggak salah menaruh harapan besar kepada dua sosok tersebut beserta jajaran pemerintahan yang baru. Tapi, jangan cuma berharap. Kerja bersama pasti jauh lebih baik.

Indonesia hebat bisa terwujud kalau jutaan manusia yang sempat maupun yang nggak sempat merayakan #SyukuranRakyat, ikut bantu Jokowi-JK dkk kerja. Kerja dalam cara kita masing-masing buat bikin hidup jadi lebih baik. Jadi enggak cuma pesta, ya 🙂

Semoga sukses Pak Jokowi-JK untuk Revolusi Mental dan semua programnya lima tahun ke depan. Saya selalu mendoakan dan bantu dengan cara saya.

Oiya, terima kasih banyak juga buat Pak SBY dan menteri-menterinya. Terima kasih buat kerja keras yang menghasilkan hal-hal baik maupun pelajaran-pelajaran baru buat rakyat dan pemimpin bangsa selanjutnya. 🙂

WE WILL NOT DIE OUR DAYS ARE MULTIPLIED

MEW. Ya. Judul di atas adalah penggalan lirik dalam lagu Apocalypso-nya Mew.

Dan pada Sabtu, 26 Oktober 2013, saya dengar dan lihat Jonas, Bo, dan Silas, bawain lagu itu di depan saya. Senangnya bukan main. Setelah melewatkan mereka di Java Rockin’ Land tahun 2009, akhirnya saya dikasih kesempatan nonton mereka (Puji Tuhan, Halleluya) di Guiness Arthurs Day 2013.

Demi lihat Mew sedekat-dekatnya, saya dan kawan-kawan rela sedikit dorong-dorongan supaya bisa maju sampai ke barisan paling depan. Tapi ternyata yang rela seperti itu bukan cuma saya. Banyak. Alhasil saya nggak berhasil berdiri di front row karena persaingan dengan frengers (sebutan untuk penggemar Mew) untuk mencapai barisan depan sangat ketat hehehe. Tapi lumayan lah saya bisa berdiri di bagian tengah, kira-kira di barisan keenam atau tujuh. Pandangan lumayan enak, meski kadang terhalang orang-orang berbadan jangkung di depan saya.

Mew malam itu bawain 17 lagu, yang sebagian besar lagu favorit saya (dan sepertinya favorit semua yang nonton). Special, The Zookeper’s Boy, Beach, Snow Brigade, She Spider, 156, New Terrain, Am I Wry? No, Eight Flew Over, One  Was Destroyed, dan Encore: Comforting Sounds, jadi yang paling berkesan di mata saya pada performa mereka saat itu. Walau udah malem (mereka mulai main pukul 23.30), mulai nguap-nguap, dan kaki lumayan pegel saya tetap memuja band asal Denmark itu dengan sumringahnya.

Saya masih ingat, paling ngotot ikut nyanyi saat Apocalypso, 156, dan Am I Wry? No. Ya.. lagu-lagu itu emang yang paling saya tunggu sih. Kapan lagi nyanyi berjamaah sama Jonas juga. Tapi scene yang paling mengharukan ya saat encore. Comforting Sounds. Semua nyanyi bareng. Bahkan saat lirik habis pun mulut-mulut bersenandung menirukan melodi gitar. Di sepanjang lagu, indofrengers meniupkan bubble. Sampai akhirnya di bagian akhir lagu ada hujan confetti. Merinding. Nggak terlupakan. 

Dari dulu saya bilang Mew jenius. Musik mereka sangat nggak sederhana, (kalau sependengaran saya) agak-agak experimental rock, progressive, dengan beat dan instrumen yang bikin emosi naik turun. Meski terdengar susah dan ribet, tapi terasa enak dan bisa dinikmati. Itu dia letak jeniusnya menurut saya. Nggak cuma enak untuk didengar, tapi juga enak dilihat langsung performancenya. Meskipun Jonas terlihat sedikit kaku, malu-malu, dan nggak terlalu interaktif dalam aksi panggungnya, saya sama sekali nggak bosan. Mungkin karena suara tinggi Jonas, permainan gitar Bo, hentakan drum Silas, serta piano dan bass dari additional player berpadu dengan harmonis.

Terlepas dari durasi yang kurang lama, banyaknya lagu-lagu favorit yang nggak dibawain, dan setlist yang agak-agak ketebak,  Mew sukses menyumbangkan senyum lebar di bibir saya. Senang sekali.

 

“We will not die our days are multiplied.” Ya, semoga hari-hari kita terus berlipat ganda  supaya bisa bertemu lagi (dengan Repeaterbeater, Introducing Palace Players, Silas The Magic Car, Do You Love It, Like Paper Cuts, Behind The Drapes, Wheels Over Me, Symmetry, …. semua… semua yang belum dibawain Sabtu kemarin) di Jakarta atau manapun. ❤

(Akhirnya) #SigurRosJKT!

Saat lihat Sigur Ros manggung langsung di depan mata, saya cuma bisa ngomong “Oh my God”, “Anjir”, “Gilak!”. Jumat, 10 Mei 2013, saat band post-rock asal Islandia ini (akhirnya) datang ke Jakarta, bisa saya nobatkan sbg salah satu hari paling istimewa dlm hidup saya. Akhirnya angan-angan untuk lihat langsung sajian audio visual mengagumkan (yang biasanya cuma lihat di YouTube) terwujud nyata.

 

Gila. Sigur Ros dan tim produksi-nya memang luar biasa. Mereka berhasil bikin saya malam itu merasa bukan sedang berada di bangku tribun Istora Senayan, tapi di dunia sendiri. Saya rasa Sigur Ros dan tim berhasil mengantar setiap penonton ke dunianya masing-masing sesuai imajinasi dan interpretasinya, melalui audio dan visualisasi yang disajikan. 

 

Tiap lagu disertai visualisasi yang keren banget. Di dua lagu pembuka, Sigur Ros di panggung ditutupi kain putih yg menampilkan visualisasi lagu. Di lagu kedua Ny Batteri, siluet Jonsi, Goggi, dan Orri muncul bergantian sesuai hentakan drum yang penuh energi di lagu tsb. Ini benar2 kayak pemanasan supaya siap masuk dan lihat dan dengar musik Sigur Ros sesungguhnya. Di akhir lagu Ny Batteri, tirai diturunkan, dan wujud asli mereka pun terlihat. Merinding.

Ny Batteri
Ny Batteri

Lebih merinding lagi saat Hoppipolla. Cuma di lagu ini penonton sing-along bareng, berusaha menyanyikan lirik dalam bahasa Islandia, hampir sepanjang lagu. Ditambah lagi visualisasi di belakang personil, yg seolah-olah seperti bintang/percikan api warna-warni. Di lagu Olsen Olsen muncul lagi choir dari penonton, mengikuti bunyi suling. Sigur Ros sampai ngasih waktu utk penonton senandung berjamaah dulu, lho. Aduh itu rasanya… 🙂

 

Terlalu banyak hal berkesan dari penampilan Sigur Ros malam itu, yang kalau diceritakan bisa panjang banget, atau malah pendek banget karena saya gak tau kata-kata yg tepat untuk mengungkapkan gmn kerennya malam itu. Yang jelas, dari sound, lighting, dan visualisasi, semuanya berkualitas tinggi dan sinkron banget. Semuanya terasa hampir sempurna.

 

Saya rasa Sigur Ros bukan sekadar main musik di tiap penampilannya. Ada jiwa di setiap lagu, yang bikin penonton bukan cuma ngerasa terhibur tapi jg masuk dan terlibat di setiap lagu. Rasa-rasanya, sih, ini yang bikin takjub dan beda suasananya dari konser-konser grup lainnya. 

 

Thanks a lot Sigur Ros for ±2 hours of eargasmic & eyegasmic performance. I was totally amazed!

Temu Kangen Sheila on 7

Kalau ditanya siapa band idola dari kecil sampai sekarang, dengan lantang saya akan jawab: Sheila on 7!

Kelas 3 SD saya sudah jatuh cinta dengan lagu-lagunya. Padahal lagu-lagu mereka mayoritas tentang cinta-cintaan yang tentu saja pada saat itu belum saya pahami. Saya juga gak tahu kenapa. Mungkin karena lagunya enak didengar, liriknya mudah dihapal, dan sering banget diputar di radio ataupun MTV :))

Saya dengar album-album mereka, mulai dari yang berjudul Sheila on 7, Kisah Klasik untuk Masa Depan, 07 Des, sampai Pejantan Tangguh. Setelah itu… sekitar tahun 2006 (zaman SMP) saya sudah gak terlalu nyimak lagi, sih. Mungkin karena udah banyak band Indonesia lain yang narik perhatian saya, kayak The Upstairs, Goodnight Electric, Sore, dan White Shoes and The Couples Company. Hahaha.

Masa-masa ter-ngefans sama Sheila on 7 itu memang pas SD. Kelas 4 SD bahkan saya pernah nonton mereka manggung di Sarinah, tepat di hari Valentine. Astaga, itu kalau diingat-ingat lucu juga. Bisa-bisanya anak kelas 4 SD gaya-gayaan nonton band kondang di kafe yang isinya orang dewasa semua hahaha.

Itu pertama kalinya saya nonton Sheila on 7. Tiba-tiba ketika sudah kuliah, saya dipertemukan lagi dengan mereka di acara Sinofest XII garapan mahasiswa Sastra Cina UI, 26 April 2013 lalu. Dan itulah kali kedua saya nonton Sheila on 7.

Senengnya luar biasa!! Mereka ngebawain lagu-lagu hits lawas favorit saya (dan mungkin favorit semua orang) seperti Seberapa Pantas, Kita, Bila Kau Tak di Sampingku, Pria Kesepian, juga lagu-lagu yang agak baru, seperti Yang Terlewatkan dan Hari Bersamanya. Gak ada satupun yang gak nyanyi malam itu. Terbukti, memang Sheila on 7 adalah salah satu band favorit abadi. Terlihat dari lagu-lagunya yang walaupun udah lama tapi liriknya gak dilupain orang-orang.

Penampilan Duta, Eross, Adam, dan Brian di atas panggung pun sangat gak mengecewakan. Walau umur makin dewasa, tapi tetap enerjik dan berkualitas, sama kayak waktu saya nonton 12 tahun yang lalu :))

 

5 Hal Yang Bisa Dilakukan Saat Liburan!

Liburan nggak melulu harus diisi dengan yang namanya jalan-jalan ke luar kota, luar negeri, tempat-tempat hiburan, mall, bioskop, karaoke, atau nongkrong-nongkrong dan makan bareng teman-teman. Kegiatan-kegiatan tadi tentu saja jadi pilihan. Tapi, tidak bisa dipungkiri kan kalau untuk melakukan kegiatan-kegiatan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kalau itu semua dilakukan setiap hari selama masa liburan, empat minggu misalnya, bisa-bisa kita jadi boros, pengeluaran membludak, dan ujung-ujungnya nyesel karena uang telah ludes.

Nah, bagi yang sedang dalam masa liburan singkat, tapi lagi nggak punya duit atau pengen ngirit, tapi tetap ingin liburannya berkualitas (nah lho, ribet), mungkin 5 hal di bawah ini bisa jadi alternatif pilihan kegiatan untuk mengisi waktu senggang saat liburan (tanpa keluar biaya banyak):

1. Beres-beres dan bersih-bersih kamar
Habis kuliah atau sekolah selama satu semester pasti kamar dan meja belajar penuh dengan kertas-kertas atau buku bahan kuliah. Waktu libur bisa jadi kesempatan buat merapikan dan menata kembali kamar dan meja belajar supaya kembali rapi, bersih, cantik, dan ganteng seperti semula. Daripada pas mepet mau kuliah atau sekolah baru uring-uringan meja belajar dan kamar berantakan, lebih baik pas liburan kita bereskan! : )

2. Baca Buku
Bukan, bukan buku teks bahan kuliah/sekolah. Tapi buku-buku bacaan ringan, yang bisa menghibur, dan lebih bagus lagi kalau bisa sekaligus menambah ilmu atau setidaknya menambah perbendaharaan kata kita. Kita bisa baca koleksi buku di rumah yang belum sempat dibaca karena sibuk saat belum liburan. Atau belilah buku-buku bagus yang berjajaran di toko buku. Keluar uang untuk membeli buku-buku bermutu nan menghibur tentu akan lebih berguna daripada untuk sekedar senang-senang sementara.

3. Nonton DVD di rumah
Mungkin semasa kuliah/sekolah terlalu sibuk sampai ketinggalan film-film oke? Nah, inilah saatnya mengejar ketertinggalan dengan nonton film-film tersebut dari DVD di rumah. Bisa puas nonton berapa film pun dalam sehari, terhibur, dan nggak ketinggalan lagi 😀

4. Olahraga
Bisa sepedaan, berenang, lari pagi, atau SKJ kalau mau. Yah, sekedar senam-senam sederhana juga nggak apa-apa lah.. yang penting gampang, sehat, dan (mungkin aja) berat badan berkurang!

5. Nginep bareng teman-teman
Ajak teman-teman nginep di rumah sendiri atau nginep di rumah salah satu teman bareng teman-teman uang lain. Biasanya kalau udah nginep rame-rame bisa seru-seruan, ngobrol, curhat-curhatan dari pagi sampai pagi lagi. Akhirnya jadi punya quality time bareng teman-teman deh!

Itulah tadi pilihan-pilihan kegiatan untuk mengisi liburan supaya tetap menyenangkan, berkualitas, tapi nggak perlu ngeluarin banyak uang. Tapi… bagi sebagian besar orang, jalan-jalan mungkin tetap menjadi pilihan utama untuk mengisi waktu liburan. Mungkin pilihan di atas bisa dijadikan selingan, supaya dalam liburan yang singkat, nggak setiap hari jalan-jalan dan buang-buang duit. Hmm sebenarnya alternatif ini lebih ditujukan buat saya sendiri sih, supaya bisa mengisi waktu liburan bukan cuma dengan hura-hura, tapi lebih berkualitas. Hehehe.