Tips ke Pasar Santa

Siapa yang belum pernah dan pengin ke Pasar Santa? Ngacung. Hayo ngaku, pasti penasaran kan sama pasar yang namanya lagi melejit ini?

Belakangan ini Pasar Santa memang jadi buah bibir warga Jakarta. Pasar ini sebenarnya udah lama berdiri di daerah Kebayoran, Jakarta Selatan. Dulu sempat redup, tapi sekarang naik daun lagi karena banyaknya kios-kios menarik yang dibangun atas inisiatif anak-anak muda ibu kota. Di lantai atas pasar ini, Anda bisa nemu makanan-minuman lucu, kaos-kaos, CD dan vinyl, sampai jasa spa.

Untuk bisa mencicipi suasana Pasar Santa dengan nikmat, ada baiknya Anda ikuti beberapa tips ini. Namanya juga ke pasar, jalan-jalan di sana nggak akan senyaman di mall yang adem atau taman yang luas medannya. Tips-tips ini adalah pelajaran yang saya petik dari kunjungan singkat ke Pasar Santa kemarin, Sabtu (10/01/2015) hehehe.

1. Naik kendaraan umum

Yang utama, sebaiknya pergi ke Pasar Santa dengan kendaraan umum atau jalan kaki dari mana gitu 🙂 karena apa? Kalau bawa kendaraan pribadi cari parkirnya setengah mati, sis. Apalagi kalau Anda ke sana pas weekend. Waduh bisa lamaan cari parkirnya daripada makannya 🙂 Udah gitu, ada area parkir yang cuma bisa dipakai sampai pukul 15.00. Setelah jam segitu, kendaraan yang parkir di situ kudu pindah ke lahan lain yang kosong. Kalau Anda parkir di situ, bisa-bisa Anda nggak tenang tuh di dalam pasar hehehe.

2. Pakai baju adem

Nggak ada pendingin ruangan (AC) di dalam Pasar Santa dan kios-kiosnya. Ada sih kios yang pakai AC, tapi cuma sedikit. Kebanyakan kios menyediakan kipas angin supaya pengunjung nggak kegerahan. Ditambah lagi, pengunjung pasar ini buanyaak jumlahnya. Padat deh di dalam. Itu sebabnya, pakai baju, celana/rok berbahan adem, yang nyerap keringat. Kalau perlu bawa juga kipas tangan atau handuk kecil supaya Anda tetap tampil kece, terbebas dari tetesan keringat 😉

3. Survei

Sebelum berangkat, mending cek dulu di internet atau tanya-tanya teman yang sudah pernah ke sana, kira-kira kios apa yang paling menarik buat Anda. Kios di sana super banyak dan semuanya terlihat menarik banget. Kalau sudah tahu kios mana yang paling recommended, Anda nggak akan terlalu bingung menjatuhkan pilihan untuk cicip atau masuk ke kios yang mana 😀

4. Cash/debit nggak masalah

Banyak kios di sana yang punya mesin EDC yang memungkinkan Anda bayar transaksi dengan kartu debit. Jadi, kalau nggak mau bawa uang tunai banyak-banyak nggak masalah kok, asal kartu debit Anda ada saldonya, ya! Hehehe.

5. Main juga ke kios di bawah

Pasar Santa memang bangkit lagi gara-gara bisnis inovatif dan kreatif di lantai atas. Tetapi, jangan lupa kalau di lantai bawah masih banyak pedagang baju, mainan, alat elektronik, dan lain-lain yang juga mengharapkan keuntungan dari kedatangan kita ke sana. Kali aja ada yang butuh beli baju anak-anak buat adik atau keponakan? Di lantai atas nggak ada yang jual, lho. Jadi, coba saja intip ke lantai bawah. Siapa tahu ada yang memikat hati 🙂

Hmm, kayaknya itu aja deh tips terpenting ke Pasar Santa (versi saya). Selebihnya, silakan nikmati sendiri suasana intim dan menyenangkan di sana! 🙂

Advertisements

Salihara Jazz Buzz: Ligro

Sabtu sore, 9 Februari 2013, di tengah hujan saya berangkat ke Salihara untuk hadir di program Jazz Buzz yang malam itu menampilkan sebuah trio Ligro. Katanya sih om Adi Darmawan (bass), Agam Hamzah (Gitar) dan Gusti Hendy (drum) mendefinisikan diri mereka sebagai ‘Orgil’ (orang gila), makanya trio-nya dinamakan Ligro. Silakan cari tahu sendiri apa hubungannya. Yang nemu dikasih jempol aja. Hahaha.

Yang jelas dari penampilan mereka dua minggu yang lalu (dari hari tulisan ini dibuat), kesan saya beliau-beliau ini emang beneran orgil. Gila dalam arti positif, ya. Gila main musiknya. Gila dalam skill dan kreativitas. Awalnya saya kira saya gak akan terlalu sreg sama penampilan Ligro malam itu, karena kentalnya musik rock dalam suguhan musik jazz-nya. Ya… karena dari nonton acara jazz yang saya harapkan selain hiburan tentu saja alunan yang enak dan mudah ditangkap telinga saya. Akan tetapiii… saya salah. Walau unsur rock-nya kuat, Ligro berhasil bikin telinga dan mata saya nggak capek bekerja. Mungkin Ligro berhasil mengemasnya dengan baik, sehingga orang yang gak terlalu suka rock yang kuat pun bisa turut menikmati campuran musik jazz dan rock dengan tambahan musik etnik ala mereka. Sebagai bagian dari performance dan mungkin bagian dari tambahan instrumen juga, ada pula adegan mereka gergaji-gergaji gitar, naburin paku, ngibarin seng, dan mecahin gitar. Ligro emang kaya instrumen dan… Unik 🙂

Penampilan terfavorit saya dari Ligro malam itu adalah saat mereka memainkan lagu Radio Aktif. Judulnya agak ngeri, tapi rupanya lagunya tak semengerikan judulnya. Malah enak di kuping. Sayang belum ada video waktu mereka tampil di Jazz Buzz Salihara. Buat yang penasaran, saya kasih video penampilan Ligro di Bentara Budaya aja, ya.

Kalau pas di Salihara sih ada adegan tiga om hebat ini nyalain radio secara acak sebagai pengiring mereka main musik. Jadi benar-benar ada radio aktif lah di penampilan mereka itu, hehe.

Tapi malam itu Ligro nggak tampil bertigaan aja, tapi ditemani dengan beberapa pemain instrumen lain yang menambah kemegahan permainan musik mereka. Ligro juga terdengar lebih manis dengan kehadiran Ade Irawan (piano) dan Dika (violin) di beberapa lagu. Ade dan Dika ini sangat talented, walaupun masih sangat muda dan pada diri Ade ada keterbatasan fisik, tapi jado banget mengiringi Ligro yang sudah handal.

Satu lagi, untuk nonton mini konser se-oke ini, saya hanya perlu bayar Rp 35.000,-! Murah banget. Tapi itu harga pelajar&mahasiswa sih. Untung saya masih mahasiswa hihi.

Dunia Batas – Payung Teduh

Setelah cukup lama tak melirik blog pribadi saya ini karena berbagai hal dunia nyata yang tak mungkin diacuhkan, saya kembali menyentuh halaman ini dengan membawa cerita dan kesan saya mengenai album Dunia Batas milik Payung Teduh.

Album ini memuat lagu-lagu baru dan juga lagu-lagu Payung Teduh dari album yang sebelumnya. Tapi ada yang berbeda dari lagu-lagu lama mereka di album ini. Ada sedikit nuansa baru di dalamnya. Sebenarnya yang dimaksud nuansa baru adalah adanya tambahan alunan alat musik, seperti flute, piano, dan (sepertinya) biola. Lagu-lagu yang dulunya terdengar lebih sederhana, hanya dengan gitar, guitalele, drum, dan contra bass, kini terdengar lebih “ramai” karena adanya tambahan instrumen-instrumen itu. Awalnya saya tak terbiasa dan merasa yang lama lebih baik. Tetapi lama-lama saya terbiasa dan tetap merasakan kesyahduan dari setiap lagu yang dari album ini. Lagu-lagu lama yang kembali diolah dalam album ini adalah Berdua Saja, Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan, Angin Pujaan Hujan, dan Resah.

Payung Teduh juga menambah empat lagu barunya dalam album ini. Salah satu yang menjadi andalan ialah Menuju Senja. Lagu ini -katanya- merupakan jawaban dari lagu Setengah Lima milik SORE. Tak heran, tipikal lagu ini terdengar SORE sekali. Yang menarik, ada semacam pergantian nuansa di lagu ini, dari yang kekeroncong-keroncongan beralih ke swing-jazz (yang sekali lagi, SORE sekali). Lirik yang puitis, suara guitalele yang kental, alunan flute, dan nuansa keroncong dan jazz semuanya terdengar indah dan sempurna di telinga saya. Yang jelas saya jatuh cinta dengan lagu ini.

Mungkin satu kata dari saya yang bisa mendeskripsikan album Dunia Batas adalah: Indah. Mendengar satu album, bisa membuat suasana hati lebih tenang dan dapat sejenak melupakan persoalan dunia yang ada hahaha. Salut untuk Payung Teduh. Semoga dapat terus menciptakan karya yang indah!

Sedikit Kesan Tentang ‘Kita vs Korupsi’

Jumat (2/3) pulang dari kampus, secara mendadak saya dan teman bergegas ke Salihara, Pasar Minggu Jakarta Selatan untuk nonton film Kita vs Korupsi. Sebenarnya nggak mendadak juga sih, sudah direncanakan sebelumnya, namun hingga hari H belum ada kepastian jadi atau tidaknya karena beberapa pertimbangan. Tapi akhirnya pada hari H, dengan tekad bulat, kami memutuskan jadi berangkat ke sana.

Kita vs Korupsi merupakan omnibus empat film pendek berjudul Rumah Perkara (sutradara: Emil Heradi), Aku Padamu (sutradara: Lasja F. Susatyo), Selamat Siang, Risa! (sutradara: Ine Febriyanti), dan Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa (sutradara: Chairun Nissa). Keempat film pendek ini, bertemakan tentang korupsi (sesuai dengan judulnya) dalam kehidupan sehari-hari. Yaa, korupsi-korupsi kecil, tidak sebesar yang sering diperbincangkan di media, yang seringkali dilakukan (tapi mungkin tidak disadari) masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya. Seperti nyogok calo untuk mengurus pernikahan secara cepat di KUA, korupsi nilai gara-gara duit di sekolah, dan sebagainya.

Tapi yang paling saya suka dari keempat judul film pendek di atas adalah ‘Selamat Siang, Risa!’-nya Ine Febriyanti. Ini bercerita tentang Pak Woko (Tora Sudiro) yang berpegang teguh pada pendiriannya untuk jujur dan tidak menerima uang sogokan, di antara teman-temannya yang melakukan koorupsi. Konfliknya pada saat itu adalah kondisi perekonomian keluarga yang memprihatinkan, anak Woko sakit dan kebutuhan keluarga pun tak tercukupi karena kurangnya uang. Namun Woko tetap ingin jujur dan tidak mau menerima uang sogokan, meski ia sebetulnya membutuhkan uang. Salah satu dialog yang ngena di film ini, “Mungkin saya bodoh. Mungkin juga saya salah. Tapi kebodohan dan kesalahan itu tidak akan saya sesali sampai mati,” dialog Woko ketika diminta menerima uang sogokan dari pedagang beras. Istri Woko (Dominique) pun lega atas keputusan Woko untuk tetap jujur dengan tidak menerima sogokan. Patut dicontoh :”’) hehe.

Kejadian serupa kemudian menimpa Risa (anak Woko) saat sudah besar dan bekerja di sebuah kantor. Ia disodori amplop, namun ia teringat akan sikap ayahnya yang teguh menolak korupsi. Risa pun melakukan hal serupa. “Kebaikan lahir dari kebaikan sebelumnya.”

Ketiga film lain tentu tidak kalah bagusnya. Semuanya punya pesan yang sangat baik. Mengkampanyekan anti korupsi. membuat masyarakat merefleksikan perilakunya selama ini, yang mungkin secara tak sadar melakukan korupsi. Korupsi yang dimulai dari hal-hal kecil, dari hal sehari-hari.

Yang cukup mengagumkan lagi adalah katanya, seluruh kru, aktor, dan aktris yang terlibat dalam film ini tidak dibayar. Padahal semuanya tentu butuh waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Udah gitu pemainnya bagus-bagus pula, Teuku Rifnu Wikana, Nicholas Saputra, Revalina S. Temat, Tora Sudiro, Dominique, dan lain-lain hehe. Salut untuk mereka semua yang dapat menghasilkan sesuatu dengan baik dan total walau tanpa imbalan. Lagi-lagi patut dicontoh nih yang seperti ini, produktif dan ikhlas menghasilkan karya yang mendidik! Hehe.

Semoga semakin banyak lah karya-karya seperti ini. Ya nggak harus film dengan pemain-pemain atau sutradara yang hebat, yang penting harus mendidik dan punya pesan moral yang baik. Terimakasih buat Transparency Internasional Indonesia (TII), KPK, Management Systems International, USAID, dan Cangkir Kopi yang memproduksi film ini. Terimakasih pula buat Salihara yang menyediakan tempat untuk screening (gratis) film ini. Sering-sering, ya! Hehe.

Sukses dan salut lah buat semua yang terlibat dalam film ini. Semoga filmnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat, ditanamkan dalam-dalam pesan moralnya dalam diri masing-masing, supaya korupsi terhenti dari muka bumi ini. Hehehhe.

“If you wanna do the right thing, let’s do it in the right way.” – Aku Padamu 🙂