Jebakan Konsumerisme Pilkada

fish-fillet-with-french-fries_1220-651
Ilustrasi. Sumber: Freepik.com

Momen Pilkada atau Pilgub DKI Jakarta atau berbagai bentuk pemilihan umum lainnya belakangan nggak hanya jadi pesta demokrasi, tetapi juga pesta makan di sana-sini. Sejumlah tempat makan ramai-ramai kasih potongan harga, bonus beli 1 gratis 1, atau apapun itu lah. Pokoknya judulnya promo yang (katanya) nyenengin dan nguntungin konsumen.

Di situs Qraved.com aja, udah ada 15 tempat makan yang punya promo menggiurkan pada hari Pilkada. Rappler juga merilis daftar restoran dengan promo menarik selama Pilkada.

Memang, sih, sekilas dibaca, promonya menarik banget. Jarang-jarang bisa beli 12 crunchy wings-nya Wingstop dengan harga Rp 60.000 aja. Atau beli 1 parfait di Shirokuma, dapet gratis 1 parfait lagi.

Cara dapetinnya pun gampang. Tinggal tunjukkan jari yang sudah dicelup tinta biru, sebagai tanda kalau kamu sudah ikutan Pilkada dan memilih kepala daerahmu.

“Kapan lagi, neeeeh?!”

“Ke Kokas, yuk!! Mumpung banyak yang diskon!”

Apalagi memang tanggal 15 Februari 2017—hari pencoblosan–itu ditetapkan sebagai hari libur. Seakan-akan melegitimasi orang-orang untuk pergi ke mal, lalu antre di gerai Wingstop, Shirokuma, dan sebagainya.

Saya adalah korbannya. Hehehe. Mata saya berbinar-binar begitu lihat deretan promo dari sejumlah gerai makanan kesukaan saya. Tanpa pikir panjang saya langsung memanfaatkan kesempatan itu.

Padahal kalau dipikir-pikir, habis nyoblos saya nggak harus makan Wingstop di mal, lho. Saya juga nggak perlu-perlu amat beli dessert dari Shirokuma, lho. Apalagi, hari libur gini biasanya mama juga masak buat orang serumah, lho.

Tapi ya karena itu tadi, mumpung murah, mumpung ada bonusnya, mumpung libur juga, saya merasa harus pergi ke mal supaya bisa nyicipin sedapnya makanan dan minuman enak yang lagi diskon. Aji mumpung.

Bagi pengusaha atau ritel makanan, momen Pilkada atau Pemilu memang jadi kesempatan untuk meraih pendapatan sebesar-besarnya. Dalihnya, ini merupakan reward buat masyarakat karena sudah menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara untuk memilih pemimpin yang tepat buat daerahnya. Padahal mungkin momen Pilkada ini dimanfaatkan para pengusaha buat mendorong penjualan aja, sih. (Curigaan mode: ON)

Tapi buat konsumen yang nggak bijak kayak saya, ini namanya jebakan, nih! Jebakan konsumerisme Pilkada. Hahaha. Soalnya saya lemah, gampang tergiur diskon makanan enak. Kalau dicoba semua, tekor dong? Tanggal tua pula ini! Hihi.

Jadi mungkin sebaiknya kita harus kontrol diri nih, jangan sampai terjebak diskon ini itu selama Pilkada, terus akhirnya kelabakan sendiri karena dompet tipis sampai tanggal gajian selanjutnya. (Sok bijak :-D)

Terintimidasi Kata ‘Keren’

Barusan saya tidak sengaja mendarat di sebuah situs yang memuat cerpen-cerpen. Tapi ada satu artikel di luar cerpen yang sedikit bikin penasaran. Judulnya kurang lebih: Tips untuk Kirim Cerpen Supaya Bisa Dimuat.

“Klik.”

Di halaman itu ada beberapa poin yang kudu dilakukan penulis supaya cerpennya bisa dimuat. Poin terakhir, katanya: “Paragraf-paragraf akhir dan kalimat penutup harus keren.” Udah. Gitu aja.

Keren. Harus keren, katanya. Seperti apa keren itu?

Keren menurut saya dan Anda bisa jadi jauh berbeda. Paragraf penutup yang keren menurut saya bisa jadi sekadar cerita yang tak menggantung, jelas, tidak menimbulkan kebingungan, menjawab semua pertanyaan pembaca yang muncul dari awal cerita. Tapi bisa jadi keren menurut Anda adalah  memberi twist yang tak terduga-duga di akhir cerita, sampai semua orang bisa berkata “Gila!”; “Wah!”; dan sebagainya…

“Paragraf-paragraf akhir dan kalimat penutup harus keren.” Baca kalimat itu saya jadi terintimidasi.

Kadang-kadang dituntut untuk keren itu menakutkan. Saya atau mungkin orang lain yang senasib dengan saya jadi merasa tak bebas menulis, berekspresi, atau berkarya dalam bentuk apapun itu. Sebab, ada rasa takut karya saya tak keren seperti yang diharapkan orang-orang. Akhirnya tidak ada yang menampung, memuat, dan ujung-ujungnya ya… disimpan saja sampai berjamur.

Lama-lama seperti menyiksa diri sendiri. Ragu bikin ini atau itu karena takut hasilnya nggak keren, nggak laku, nggak diapresiasi. Kalau gitu terus kapan geraknya?

Mungkin frasa ‘cuek bebek’ tepat digunakan untuk masa-masa ini.. Masa-masa mau bikin sesuatu tapi terintimidasi duluan sama kata ‘keren’ atau ‘harus keren’.

 

Gara-gara Ponsel

“Ah.. sedih banget sih masih pada bisa liat hp, gue enggak,” keluh seorang teman saat perjalanan pulang dari Grand Indonesia ke rumahnya kemarin malam. Nggak lama dia ketawa dengar keluhannya sendiri.

Jadi ceritanya kemarin malam ponsel teman saya itu mati total karena baterainya habis. Alhasil, selama sekitar 60 menit perjalanan pulang dia “mati gaya” hahaha. Sementara, saya dan satu teman lain asyik menatap layar ponsel. Aktivitasnya membalas chat, mengecek social media, dan melihat foto-foto di galeri.

Sehabis dengar celetukan teman saya di atas itu, saya ketawa, tergelitik, terus jadi ngerenungin ucapan dia. Betapa orang macam saya dan teman-teman saya ini ketergantungan banget sama yang namanya ponsel pintar. Sehari atau bahkan beberapa jam tanpa mengecek ponsel tuh rasanya hampa. Ada yang kurang. Ada yang hilang. Ada yang direnggut. Hahaha apaan sih.

Terus saya jadi geli sendiri. Kenapa bisa gitu. Gara-gara ponsel saya jadi lupa sama apa yang ada di sekitar. Gara-gara sibuk mengonsumsi ponsel, saya jadi lupa ada teman –yang lagi nggak tahu mau ngapain—duduk persis di sebelah saya.

Peduli

Iya, dengan pakai ponsel saya tuh tetap peduli sebenarnya. Tapi, pedulinya sama hal-hal yang jauh di sana. Saya balas obrolan teman yang lagi di Bekasi, saya nge-love posting Path saudara saya yang lagi jalan-jalan di Yogya, saya nge-like foto bernuansa vintage –dari orang bule yang bahkan nggak saya kenal—di Instagram.

Tapi saya nggak peduli sama teman saya yang lagi bengong di sebelah saya, nggak ada yang ngajak ngobrol. Atau kasus lain, saya jadi lupa matiin keran bak mandi yang airnya sudah meluber, saya nggak bantuin mama yang lagi nyuci piring, saya duduk diam di sofa saat bapak saya angkat-angkat meja tamu yang lagi mau diberesin, saya nggak tahu kalau warung makan tenda favorit saya lagi sepi pengunjung karena ada rumah makan baru di sekitarnya, dan saya juga nggak tahu kalau orang di samping saya lagi menahan berat badan saya, karena saya secara nggak sadar nyender ke badan dia waktu lagi asyik liat-liat linimasa Twitter di gerbong Commuter Line. Gara-gara sibuk memedulikan dunia luar lewat smartphone, saya jadi lupa untuk peduli sama hal yang paling dekat.

Jadi, terima kasih temanku. Celetukanmu menyadarkanku hahaha. Ada baiknya memang saya kurangi natap layar ponsel. Selain bikin mata capek dan kepala pusing, saya juga nggak mau kehilangan rasa peduli ke orang-orang atau keadaan sekitar, yang paling dekat sama saya. Yok ah!

Nonton Idola vs Kantong Tipis

Jakarta kedatangan segambreng musisi luar negeri. September ada Keane, Java Soulnation (Scissor Sisters, James Morisson, Robin Thicke, dsb). Oktober dan November ada Maroon 5 dan Owl City (lagi). Dan Januari 2013, WEEZER.

Ada senangnya, tandanya musisi-musisi ini sudi menyapa dan mengapresiasi penggemar-penggemar mereka di Indonesia. Artinya juga mereka sudi datang ke Indonesia, di saat beberapa musisi luar ogah datang ke sini karena satu dan lain hal.

Tapi di sisi lain, kedatangan musisi yang berbondong-bondong dan berturut-turut ini bisa bikin sengsara. Sengsara di urusan kantong dan dompet. Iyalah, di sini para penggemar musisi luar yang datang itu harus rela membayar untuk masuk ke konsernya ratusan ribu bahkan jutaan rupiah. Sekarang konser (luar) mana ada, sih yang harga tiketnya 300ribuan? Paling rendah mungkin 500 ribu, itupun biasanya tempatnya di belakang atau jauh banget dari panggung.

Tapi herannya, walau mahal, tiket konser musisi luar negeri biasanya hampir selalu habis. Bahkan ada yang hanya dalam hitungan jam sejak pembelian tiket dibuka. Ini berarti tandanya apa, ya? Apa masyarakat Indonesia, khususnya Jakarta, sudah kaya-kaya? Atau si musisi itu memang sudah sangat dinanti oleh penikmat musik Indonesia? Atau ada gaya hidup, tuntutan pergaulan, yang menyebabkan masyarakat, khususnya anak muda harus nonton konser ini itu biar gaul? Hahaha bercanda, no offense.

Intinya, sih saya seneng banyak musisi luar negeri yang datang ke sini, walaupun ga semuanya saya tonton atau bahkan malah nggak ada yang saya tonton sama sekali karena masalah kantong dan dompet tadi, haha. Banyak alternatif hiburan untuk masyarakat. Ini juga bisa bikin nama Indonesia naik di dunia internasional, kan? Karena berita konser si musisi pasti juga sampai ke media luar negeri. Tapi ya itu tadi, harapannya semoga konser-konser tadi nggak bikin masyarakat Indonesia sengsara karena harus rebutan dan terkikis habis isi dompetnya karena harga tiket yang tinggi menjulang. Jangan juga konser-konser itu bikin masyarakat Indonesia jadi konsumtif, karena terus-terusan beli tiket musisi ini musisi itu walau sebenarnya nggak pengen-pengen banget nonton, karena happening aja, gitu. Sekali lagi, bercanda, no offense.

Satu lagi harapannya, semoga kedatangan musisi-musisi luar negeri yang sering ini, (menyambung dari postingan sebelumnya) nggak bikin kita lupa sama konser-konser dari musisi Indonesia sendiri yang pastinya nggak kalah keren dan berkualitas serta patut diapresiasi. Jangan cuma rela ngeluarin uang buat nonton konser luar negeri, yang dalam negeri juga harus diapresiasi supaya terus berkembang maju dan jadi kebanggaan kita semua 🙂

Tujuh Doa Buat Jakarta

Hari ini Jakarta ulang tahun. Yang ke 485.

Saya tinggal di kota ini sejak saya lahir. 20 tahun yang lalu. Ya, baru seumur jagung sih. Dari 20 tahun itupun paling saya baru beberapa tahun benar-benar bisa merasakan yang namanya tinggal di Jakarta.

Perasaan saya ke kota ini kayak judul atau penggalan lirik lagu. Benci tapi cinta atau benci tapi rindu. Hahaha, kedengaran menggelikan. Tapi benar, tinggal di Jakarta itu kan banyak pahitnya, ya,(tahu sendiri, lah apa nggak enaknya) tapi, biarpun begitu, kota ini tetap ngangenin juga -setidaknya menurut saya- dan tetap membuat saya selalu menginginkan adanya sederetan perubahan yang baik untuk kota ini.

Nah, seperti manusia yang selalu didoakan oleh orang-orang sekitarnya di setiap ulang tahunnya, di hari ulang tahun Jakarta ini saya juga mau ikutan memanjatkan doa, ah untuk Ibu Kota ini. Doa-doa saya sebetulnya hampir sama setiap tahunnya, berdasarkan pengalaman dan keluhan pribadi saya. Tapi sayang, dari tiap tahun kayaknya belum ada yang benar-benar terkabul. Hahaha. Tapi ya sudahlah, pokoknya saya tetap mendoakan tujuh hal di bawah ini untuk Jakarta, siapa tahu bisa diwujudkan oleh Gubernur baru nanti 😉

1. Angkutan Umum! Berhubung saya pengguna setia angkutan umum, maka hal inilah yang pertama kali saya harapkan bisa diperbaiki. Iyalah, penduduk Jakarta banyak, padat, mobilitasnya tinggi. Setiap hari butuh angkutan umum untuk bepergian ke satu tempat ke tempat lain. Sayang banget kalau angkutan umum keadaannya tidak layak. Peyot, kotor, berkarat, rawan kriminalitas, nggak nyaman, supir nyetir ugal-ugalan, supir ngetem lama untuk kejar setoran, wah banyaklah keluhannya. Nggak heran jika banyak penduduk yang lebih memilih kendaraan pribadi, seperti motor dan mobil, untuk mobilisasi. Akibatnya? Ya jalanan penuh dan macet. Alangkah lebih baik apabila keadaan angkutan umum diperbaiki. Kalau begitu kan para pengguna angkutan umum senang, bisa, ehm, ngegaul ke sana sini dengan aman, nyaman, tentram, dan tepat waktu. Eh, siapa tahu juga bisa bikin iri para pengguna kendaraam pribadi agar beralih ke angkutan umum yang aman dan nyaman, macet pun berkurang 😀

2. Pembangunan mall, apartemen, pusat perbelanjaan dan sejenisnya. Kalau yang saya harapkan sih di-stop aja. Kasihan sama udara Jakarta, udah setiap hari dipenuhi asap kendaraan bermotor, eh tambah nggak segar lagi karena kurang pepohonan akibat ditebang untuk pembangunan ini itu. Serius deh, mall udah kebanyakan. Warga Jakarta nggak terlalu butuh itu lagi. Justru mereka butuh udara segar dan sehat yang selama ini hilang karena kurangnya lahan hijau. Lebih baik perbanyak taman, biar warga Jakarta lebih sehat dan nggak belanja ke mall melulu pikirannya :p

3. Pengamen-pengamen cilik. Miris rasanya kalau lihat anak-anak umur 3-4 tahun atau anak-anak usia SD-SMP harus ngamen di jalanan, tanpa alas kaki, kadang sambil menggendong adiknya yang masih bayi. Harusnya mereka nggak cari uang, harusnya mereka bisa main atau sekolah dan hidup layak. Nah, kalau yang ini berarti tugas pihak yang berwenang nih, mengurus kesejahteraan rakyatnya. Mudah-mudahan nggak ada lagi, deh anak-anak kecil cari duit dengan cara kurang layak di Jakarta.

4. Bibit-bibit kriminalitas dimusnahkan. Ya, semoga nggak ada lagi anacaman-ancaman tindak kriminal dari para pelaku kriminal kepada warga Jakarta. Masa iya semua warga Jakarta harus selalu dihantui rasa cemas kemanapun mereka melangkah? Harusnya semua warga Jakarta bisa selalu merasa aman dan terlindungi, dong dari orang-orang jahat?

5. Nggak ada lagi orang-orang yang harus tidur di emperan toko, di pasar, atau di trotoar jalan. Intinya semoga semua warga bisa hidup di tempat tinggal yang layak dan nggak ada lagi orang yang ketipu untuk tinggal di Jakarta dengan iming-iming mudah cari uang, padahal ujung-ujungnya malah bernasib seperti yang disebut di atas tadi.

6. Fasilitas yang ada digunakan sesuai dengan fungsinya. Seperti trotoar, untuk tempat pejalan kaki bukan tempat parkir atau tempat motor melintas menghindari macet; halte, untuk nunggu kendaraan umum bukan untuk tempat dagang,nodong orang, atau dianggurin aja; kali untuk tempat aliran air, bukan tempat sampah. Hihihi.

7. Terakhir, mudah-mudahan nggak ada lagi kata macet untuk alasan keterlambatan. Nggak ada lagi kata macet untuk jadi alasan stress-nya orang-orang Jakarta.

Yah, itulah doa-doa yang saya panjatkan untuk Jakarta yang kalau dari umurnya, bisa dibilang sudah rentan dan rapuh, hehe. Biar begitu, harus tetap yakin lah ya kalau itu semua bisa terwujud. Tapi jangan cuma berharap sama pemerintah untuk mewujudkan keinginan kita semua. Kita sendiri sebagai warga juga harus bertindak. Karena percuma kalau sang gubernur atau pemerintah bikin ini itu untuk solusi masalah Jakarta, tetapi warganya sendiri nggak punya kesadaran diri untuk bertindak memperbaiki dan tetap berperilaku seenaknya sendiri.

Dirgahayu Jakarta! Semoga doa-doa semua warga Jakarta di hari ini dapat terwujud, ya! :*

Lagi-lagi Blackberry

Tulisan tentang Blackberry (BB) sudah pernah saya tampilkan dalam blog ini. Namun tak ada salahnya kan bila saya nulis lagi tentang merk handphone yg masih digandrungi masyarakat Indonesia ini.

Kali ini saya mau nulis sedikit uneg-uneg (nggak penting) saya tentang Blackberry dan komunikasi dalam pertemanan yang saya alami. Maaf ya kalau agak “nyampah” di sini, daripada saya harus nyampein uneg-uneg melalui acara hipnotisnya Uya Kuya dan muncul di TV, malu ah, hehehe. Langsung saja…

Jadi begini,
Sepertinya memang komunikasi antara pengguna BB dan pengguna BB itu lebih mudah, cepat, dan lancar karena adanya Blackberry Messenger (BBM). Tapi sebenarnya pernyataan barusan bisa dibantah juga sih, mengingat dewasa ini banyak pengguna BB mengeluh karena ke-pending-an yang luar biasa di waktu-waktu tertentu. Terlepas dari keluhan pending dan sebagainya, sepertinya fasilitas BBM masih diunggulkan oleh para pengguna BB untuk berkomunikasi daripada menggunakan SMS atau telpon.

Tapi dari pengamatan dan pengalaman saya, se-pending-pendingnya BBM, tetap saja komunikasi dalam lingkaran pengguna BB lebih lancar daripada antara pengguna BB dan bukan pengguna BB. Komunikasi antara teman-teman saya yang menggunakan BB lebih intensif daripada antara teman saya dengan saya yang bukan pengguna BB. Jujur saja, saya masih pengen ngobrol-ngobrol sama teman-teman yang sudah lama nggak ketemu tentang berbagai hal. Bagaimana kabar mereka sekarang, kuliah mereka, percintaan mereka, gosip-gosip atau apapun lah, seperti yang biasanya diobrolin ketika SMA, SMP, atau bahkan SD dahulu. Tapi karena saya nggak pake BB, saya jadi kehilangan banyak informasi-informasi (sederhana) itu. Dan dugaan negatif saya informasi-informasi itu berputarnya ya hanya di lingkaran pengguna BB aja karena kembali ke hal yang tadi, lebih mudah berkomunikasi melalui BBM daripada yang lainnya.

Kenapa harus gitu?
Apakah bagi sebagian besar pengguna BB, meng-SMS teman yang bukan pengguna BB itu berat banget ya?
Apakah sudah terlalu nyaman dengan fasilitas BBM sampai-sampai nggak mau menggunakan fasilitas lain untuk ngobrol atau sekedar menyapa ke teman sendiri (yang bukan pengguna BB)?

Yaah, kalau memang begitu, nggak bisa disalahkan juga sih. Mungkin ada alasan-alasan tertentu sehingga itu yang menjadi pilihan mereka. Yang jelas, saya sedikit agak tersinggung aja sih, kalau sampai ketinggalan informasi di antara teman-teman dekat cuma karena saya nggak pakai BB. Kalau memang teman dan masih dianggap teman sih ya seharusnya komunikasi tetap lancar walaupun yang satu pengguna BB dan yang satunya lagi bukan pengguna BB.

Terus kalau saya tanya solusinya apa dan ada yang jawab: “Makanya, pake BB dong!” maka tanggapan saya adalah… kenapa mesti pake BB kalau nggak pake BB pun SEHARUSNYA masih bisa berkomunikasi dengan lancar?

Sekian. 🙂