Apakah Benar Orang Jakarta Pemarah?

Ada hal-hal yang sudah lazim ditemukan di Jakarta. Di antaranya:

1. Bunyi klakson kendaraan bersahut-sahutan dan beriringan

2. Umpatan-umpatan kasar, seperti “Anj**g lo!” atau “Ban*sat lo!”

Keduanya adalah ungkapan kemarahan yang sering muncul di jalanan Jakarta saat lagi ruwet-ruwetnya. Keduanya juga barusan saya dengar dan lihat sendiri.

Saya yang lagi duduk setengah ngantuk dalam mikrolet, kaget dan sedikit terganggu karena bunyi klakson panjang dari mobil pribadi di belakang. Rupanya kendaraan yang saya naiki berada di jalur yang salah, sehingga menghalangi perjalanan kendaraan lainnya. Nggak lama, mobil itu bisa jalan lagi hingga posisinya bersebelahan dengan angkot yang saya naiki. Pengemudinya yang masih muda kemudian membuka kaca jendela mobilnya, lalu memaki supir mikrolet dengan umpatan kasar yang tertulis di atas, kemudian berlalu. Pengemudi mikrolet yang saya tumpangi nggak balas memaki, hmm mungkin karena sadar diri bahwa dirinya salah. Tapi tetap saja ia menggerutu, mungkin agak sakit hati karena dimaki.

Kemarahan sejenis ini nggak cuma sekali. Di commuter line, di bus, di jalan umum, ada saja orang yang nggak bisa membendung emosi. Lebaynya, bagaikan tiada hari tanpa amarah di Jakarta. Hahaha, kok menyeramkan ya.

Memang sih, Jakarta itu rumit. Jalanannya, penduduknya, transportasinya, kehidupan sosialnya.. semua kompleks. Rasanya memang nggak mudah hidup di Jakarta. Harus bisa dan mau usaha keras. Makanya sampai ada ungkapan “Jakarta keras”. Itu kali ya yang bikin orang Jakarta lebih emosional?

Kalau tiap hari melihat orang marah begini, saya jadi bertanya-tanya, apa benar orang Jakarta itu pemarah? Atau pemarah situasional? Atau gimana menurut Anda? 🙂

Halo 2013!

Halo!

Halo buat yang sempat berkunjung ke blog ini, dan sempat baca tulisan ini. Kangen juga ngisi tulisan di sini. Sedih juga blog-nya agak terbengkalai, karena kesibukan dan yaa sedikit kemalasan untuk nulis hehe.

Tapiiiii, berhubung sekaranf masih bisa dianggap sebagai awal tahun 2013 dan di awal tahun ini udah lumayan banyak ketemu hal-hal menarik, maka saya mau bagi pengalaman yang menurut saya menarik itu di sini. Siapa tau ada gunanya buat yang pada sempat baca.

Enjoy 2013! Semoga kita semua dilimpahi hal-hal baik sepanjang tahun ini.

Menurut Saya…

Bikin tulisan itu nggak gampang. Bikin judul tulisan lebih nggak gampang lagi.

(Terpikir saat sedang kesulitan mencari judul tulisan. Sekian)

 

Blackberry, Antara Kebutuhan dan Pergaulan

Siapa yang tidak tahu Blackberry? Benda yang satu ini kini menjadi pujaan banyak orang oleh karena segala kecanggihannya di balik tubuhnya yang (lumayan) mini. Dengan koneksi internet, Blackberry, atau yang biasa disingkat BB ini, dapat dengan mudahnya menghubungkan orang-orang di seluruh penjuru dunia. Informasi pun secara cepat bisa didapatkan dari benda yang satu ini. Saya yakin, pasti banyak sekali yang merasakan manfaat dari keberadaan BB di dunia ini.

Dari pengamatan saya, para pengguna BB sangat diuntungkan dengan adanya fitur Blackberry Messenger (BBM), fitur chat yang sepertinya dapat membuat berkomunikasi dengan teman menjadi lebih mudah dan cepat bila dibandingkan dengan SMS pada HP biasa. Selain itu, Twitter dan Facebook for Blackberry, sepertinya juga menjadi aplikasi yang paling sering digunakan oleh para pengguna BB untuk mengakses akun-akun jejaring sosial mereka, serta Web Browser yang dapat mengakses segala situs untuk setiap penggunanya mendapatkan berita dan segala informasi.

Saya bukan pengguna BB. Oleh karena itu, melihat banyak orang di sekitar menggunakan BB dan memanfaatkan berbagai fasilitas yang disediakan, kadang tergiur juga, jadi ingin memiliki BB untuk juga bisa ngobrol dengan teman-teman yang sudah lama tidak tatap muka melalui BBM. (Karena jujur saja saya kadang jadi ketinggalan informasi dan tidak mengetahui kabar teman-teman dekat di saat yang lain sudah mengetahui lewat obrolan mereka di BBM.) Atau mengakses informasi dimanapun dan kapanpun melalui Twitter, Web Browser, atau apapun itu yang disediakan Blackberry. Tapi sayang, untuk mendapat segala fasilitas dan kemudahan yang diberikan BB itu, membutuhkan modal yang tidak sedikit. Dengan kecanggihannya, harga satu unit BB tentu tidak murah. Belum lagi biaya per bulannya untuk mengakses internet, telpon, dan sms, bagi sebagian orang pasti masih cukup memberatkan. Walaupun bagi orang-orang di kelas menengah ke atas, hal ini mungkin tidak menjadi masalah.

Kadang bingung juga, sih, apa yang menjadi dasar terjadinya keseragaman orang-orang Indonesia dalam menggunakan alat komunikasi ini. Ada orang yang menggunakan BB karena kebutuhan, misalnya karena kebutuhan akan informasi, pekerjaan, bisnis, dan sebagainya. Namun tak jarang juga orang yang menggunakan BB hanya karena mengikuti trend atau bahkan karena tuntutan pergaulan. Karena teman-teman mayoritas menggunakan BB, lalu ingin berhubungan dengan mereka secara lebih mudah, maka BB digunakan. Tapi itu tentu tidak dilarang, dong. Siapa juga yang mau melarang? Setiap orang kan berhak menggunakan BB, apapun motivasinya.

Kalau saya, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, kadang tergiur juga untuk menikmati fasilitas yang disediakan BB. Tapi sampai saat ini, kedudukan HP biasa saya belum juga tergantikan dengan si smart phone Blackberry. Pertama, karena modalnya besar, bukan cuma di awal pembelian, tapi juga di setiap bulannya setelah menggunakan. Kedua, karena saya belum terlalu membutuhkan. HP yang lama masih bisa untuk berkomunikasi, walaupun memang tak secanggih dan secepat Blackberry. Kadang memang ingin, sih, ngobrol dengan teman-teman SMA, SMP, bahkan SD yang sudah lama tidak bertemu melalui BBM, tapi kalau tujuannya hanya itu lalu saya membeli BB, rasanya agak sayang. Toh, HP saya yang itu masih bisa dibuat berkomunikasi, kok.

Jadi, selama masih memiliki alat komunikasi yang layak, dalam arti masih bisa menghubungkan saya dengan orang-orang di luar sana, saya rasa saya masih belum terlalu membutuhkan BB. Kalau tuntutan pergaulan? Walaupun cukup menggugah iman, tapi sebaiknya tidak saya hiraukan dulu lah, demi keamanan, kententraman, dan kesejahteraan diri saya sendiri. Hehehe.

PS: Saya sama sekali tidak bermaksud menyinggung, cuma menyampaikan pendapat saja. Tapi kalau ada yang tersinggung, mohon dimaafkan, ya 🙂 Terimakasih.

Nasib si Hari Senin

Ini hari apa? Hari Senin ya? Ooh pantes.

Entah kenapa banyak banget orang yang tidak suka dengan hari Senin. Sampai-sampai ada istilah “I don’t like Monday” yang sering banget terdengar di telinga. Termasuk saya sih salah satunya. Saya tidak suka dengan kedatangan hari Senin. Kalau hari Minggu malam tiba, rasanya gundah gulana, seperti ada sesuatu yang bikin perasaan jadi nggak tenang.

Nggak jelas juga kenapa hari Senin cenderung dibenci banyak orang, termasuk saya. Padahal hari Senin sepertinya nggak salah apa-apa. Tapi kenapa banyak banget orang yang seolah-olah memusuhinya? Sedih juga kalo ngebayangin gimana perasaan si hari yang mengawali pekan yang baru tersebut.

Hmm mungkin karena hari Senin terjadi setelah hari Minggu. Dimana pada hari Minggu biasanya orang-orang merasa begitu santai dan lepas sejenak dari beban-beban selama seminggu. Ketika hari itu berakhir tentu saja banyak orang merasa kecewa karena harus kembali bertemu dengan hal-hal yang dianggap tidak lebih menyenangkan dari hari Minggu.

Hari senin juga diidentikkan dengan kata ‘macet’. Sebelum berangkat beraktivitas seringkali saya mendengar, “Ayo berangkat lebih pagi, ini hari Senin lho.” Hal itu dikatakan untuk semakin memperjelas bahwa hari Senin, terutama di pagi hari, pasti akan terjadi kemacetan dikarenakan hampir semua orang di Jakarta akan memenuhi berbagai akses jalan raya untuk menuju ke tempat beraktivitasnya masing-masing. Tapi tentu saja bukan hari Senin, kan yang menyebabkan macet?

Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, si Senin nggak punya salah apa-apa. Dia sama saja dengan si Jumat atau Sabtu. Bedanya, Jumat atau Sabtu disukai bahkan sampai ditunggu-tunggu banyak orang sedangkan Senin tidak disukai bahkan tidak ingin ditemui oleh banyak orang.

Intinya saya cuma mau bilang… Kasihan, ya hari Senin.

Semoga masih tetap ada yang suka dengan hari Senin di luar sana :p

Happy Valentine!

Bagi saya, hari ini terasa seperti sama saja seperti hari Senin biasanya. Tidak ada sesuatu yang spesial. Namun, bagi hampir semua orang, Senin kali ini mungkin terbilang spesial dikarenakan jatuh pada tanggal 14 Februari, yang biasanya dirayakan sebagai hari Valentine. Otomatis, malam ini berbagai tempat akan diramaikan bahkan didominasi oleh pasangan-pasangan yang akan merayakan Valentine, walaupun sebenarnya tentu saja hari Valentine tidak hanya dirayakan oleh pasangan kekasih saja tetapi juga oleh keluarga dan sahabat.

Kalau saya?  Sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya, tidak terlalu excited apalagi sampai benar-benar merayakan hari Valentine. Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena saya masih jomblo. (Eh? Kok gak nyambung? Kok jadi curhat?) Ehm. Namun, tradisi mengucapkan selamat hari Valentine tetap dilakukan kepada para teman, sahabat, dan keluarga pastinya. Tradisi bagi-bagi coklat? Hmm, nampaknya itu merupakan masa lalu SD dan SMP saja hehehe.

Untuk itu… Selamat Hari Valentine untuk anda semua! Semoga rasa kasih sayang di antara setiap manusia tidak hanya dirasakan hanya setiap  14 Februari saja, namun setiap saat dan setiap waktu. 🙂 ❤

HALO!

Halo! Ya, kata itu yang bisa saya ucapkan bagi anda semua yang mengunjungi halaman blog ini, baik yang secara sengaja maupun tidak sengaja hehehe. Ini merupakan post pertama saya sebagai pendatang baru di blog. sebenarnya sudah lama ingin menulis di blog, namun rupanya niat yang besar tidak didukung oleh pergerakan sehingga baru terwujud kali ini :p

Saya tidak pandai menulis, namun ingin bisa menulis. Makdarit, (baca: Maka dari itu) saya mencoba untuk belajar menulis melalui blog ini 🙂 Meminjam kata-kata Pak Tarno, “Mohon dibantu yak!” :p