Senin Senang Punya Presiden Baru

Selalu ada hal yang bisa disyukuri setiap hari. Di balik panasnya Senin pagi ini contohnya, ada hadiah berupa Presiden dan Wakil Presiden baru buat Indonesia. Pak Joko Widodo dan Pak Jusuf Kalla.

Kompas.com / FIKRIA HIDAYAT - KRISTIANTO PURNOMO
Kompas.com / FIKRIA HIDAYAT – KRISTIANTO PURNOMO

Rasanya ini awal minggu yang baik. Awal minggu dengan harapan baru. Iya, saya jelas berharap banyak sama Pak Jokowi-JK (kalau gak berharap gak mungkin saya coblos pas PEMILU lalu, hehe) untuk membawa perubahan baik buat tanah air.

Jujur saja, dilantiknya Presiden dan Wakil Presiden periode 2014-2019 hari ini jadi hal menyenangkan yang mampu naikin mood. Pasti bukan cuma saya yang seneng. Lihat saja foto-foto lautan manusia yang lagi untuk menyambut arak-arakan Jokowi-JK ke acara #SyukuranRakyat. Kegembiraan pasti kerasa banget di sana. Seakan-akan enggak peduli panas terik, rakyat rela menanti pemimpin baru Indonesia menghampiri. Saya kalau bisa juga pengin ke situ. Makan bakso dan mie ayam gratis.

Tugas berat sudah ada di depan mata Pak Jokowi-JK. Memang nggak salah menaruh harapan besar kepada dua sosok tersebut beserta jajaran pemerintahan yang baru. Tapi, jangan cuma berharap. Kerja bersama pasti jauh lebih baik.

Indonesia hebat bisa terwujud kalau jutaan manusia yang sempat maupun yang nggak sempat merayakan #SyukuranRakyat, ikut bantu Jokowi-JK dkk kerja. Kerja dalam cara kita masing-masing buat bikin hidup jadi lebih baik. Jadi enggak cuma pesta, ya 🙂

Semoga sukses Pak Jokowi-JK untuk Revolusi Mental dan semua programnya lima tahun ke depan. Saya selalu mendoakan dan bantu dengan cara saya.

Oiya, terima kasih banyak juga buat Pak SBY dan menteri-menterinya. Terima kasih buat kerja keras yang menghasilkan hal-hal baik maupun pelajaran-pelajaran baru buat rakyat dan pemimpin bangsa selanjutnya. 🙂

Q & A: Sigit Pramudita (Tigapagi)

Menyambung postingan sebelumnya, ini merupakan potongan obrolan dengan Sigit dari Tigapagi setelah mereka tampil di panggung Joyland Festival 2013. Selamat membaca!

 

Konsep album?

Konsepnya sebenernya ceritanya tentang perjalanan hidup dan waktu yang terus berjalan tanpa henti. Makanya di situ ada satu track yang terus nyambung. Waktu kan nggak ada jeda, dia jalan terus gitu makanya dibikin satu track.

Sosok Roekmana?

Pengambilan nama Roekmana sendiri dari seorang mentor kita di Tigapagi. Cuma di album Roekmana’s Repertoire itu dia jadi tokoh utama. Kalau dianggap album itu adalah film gitu, ada tokoh utama  yang namanya diambil dari nama seseorang. Dialami oleh Roekmana.

Latar suasananya itu tahun ’65, kenapa?

Karena buat kita dan buat semua rakyat Indonesia  mungkin sebenarnya kalau disadari sebenarnya selain Proklamasi tahun ’45, tahun ’65 ada sesuatu yang sangat penting buat semuanya. Baik buruk, maksudnya baik dari segi buruk ataupun baik, tapi tahun ’65 punya peran tersendiri dalam mengubah.. sama kuatnya dengan Proklamasi, buat kita.

Kenapa empat belas lagu jadi satu track?

Ya karena tadi sih, konsepnya mengenai perjalanan waktu. Karena waktu jalan terus, kita bisa memberhentikan aktivitas kita, tapi waktu terus jalan.  Waktu nggak ada jeda, kan jadi kita nggak bisa pause dulu. Jadi konsepnya kayak gitu.

Konsep satu track ini kan masih agak jarang di sini, pernah ada komentar-komentar seru?

Ada kok banyak, kayak konsep album satu track ini memang masih belum lazim gitu ya. Cuma sebenarnya sudah lazim. Kalau kita lihat zaman kaset, kita nggak bisa pilih track. Kita denger dari lagu pertama sampai lagu terakhir, lalu ganti side gitu. Zaman piringan hitam juga gitu. Sebenarnya nggak jadi masalah gitu. Cuma kenapa di zaman multimedia mungkin… Ya gimana kalau dicoba dibiasakan digital tapi semi-semi analog. Ada sih komentar kayak ‘wah gue beli satu album cuma satu lagu doang’. Cuma ya nggak papa, itu jadi seru aja sih.

Nggak takut akan mengurangi intensitas diputer di radio gitu, karena ribet di-play?

Enggak sih kita sebenarnya udah menyediakan satu single, buat radioplay, yaitu Alang-Alang itu. Nah sisanya dengerin aja di rumah lewat CD-nya gitu. Mungkin nanti ada single berikutnya yang ada di dalam album, tapi kita rekam ulang. Jadi beda yang ada di album sama CD kita.

Kendala bikin album bisa sampai lima tahun?

Ya itu tadi, kita nyambunginnya, kan bikin aransemen.. Nah ngegodok aransemennya, ngegodok konsep di albumnya, konsep kemasannya, belum lagi masalah finansial, tahu-tahu nggak ada duit, tiba-tiba pindah studio, itu yang bikin jadi lama.

Soal keterlibatan musisi lain? Ada pertimbangan nggak musisi ini di lagu apa?

Memang jadi Tigapagi memang lebih ke menulis lagu. Saya sendiri nyanyi karena nggak ada lagi yang mau nyanyi gitu sebenarnya (tertawa). Jadi ketika saya nulis lagu memang udah kebayang ketika lagu itu diciptakan.. Alang-Alang misalnya, Ade Paloh (SORE) yang nyanyi. Itu memang udah kebayang bahwa dia yang akan nyanyi nanti. Begitu juga Pasir, ini Cholil (Efek Rumah Kaca) akan menyanyikan lagu ini, gimana caranya kita akan memohon. Akhirnya memang dengan baik hati gitu mereka mau. Jadi dari awal penciptaan lagu tersebut udah diciptakan buat mereka gitu. Buat Cholil, Aji Gergaji dari The Milo, sama Ida Paramita Saraswati (Nada Fiksi), sama Ade Paloh memang lagu-lagu tersebut udah dipersiapkan buat mereka.

Artwork albumnya apakah emang nyambung sama lagunya?

Jadi emang kita sih seolah-olah emang bikin film. Jadi desainernya ya DOP-nya, bikin storyboard dan segala macem. Jadi kita brainstorming sama namanya Obscura Oddities. Kita brainstorming lumayan lama.. ada tiga atau empat bulan buat ngegodok si pengemasan dan desain album itu agar pas sama isinya gitu. Jadi emang direncanakan seperti itu, semuanya emang digodok dulu sebelum akhirnya rilis.

Pesan yg ingin disampaikan melalui album?

Ada, seperti yang biasa kita sampaikan bahwa semoga adanya album Roekmana’s Repertoire ini dapat memberikan manfaat bagi pendegarnya, dan kita mohon doa restu agar Tigapagi bisa tetap berkarya sampai nantilah habis usia kita..

Buat pendengar sih dengan mendengar itu, dia misalnya jadi terbuka pikiran atau apapun lah. Manfaat bisa apapun gitu.. jadi asalnya dia berpikir sesuatu ini nggak baik, jadi baik. Yang kayak gitu lah. Kalau buat Tigapagi-nya sendiri manfaatnya adalah kita bisa berbagi cerita lah, silaturahmi sih. Melalui album itu jadi silaturahmi gitu sih intinya.

Terima Kasih Tigapagi!

Akhir tahun 2013 saya naksir sama trio asal Bandung, Tigapagi. Sayang baru sempat ditulis di awal tahun 2014 ini, hahaha mohon maaf. Walau udah agak telat, tapi saya tetap mau Anda tahu kalau ada lagi band lokal yang karya keren-nya muncul baru-baru ini. Karena kata orang, lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Ya.

Pertama kali saya tau Tigapagi dari Twitter. Entah kenapa di linimasa Twitter saya banyak sekali orang yang nge-tweet atau retweet tentang mereka yang pada saat itu (September 2013) mengeluarkan album Roekmana’s Repertoire. Berbekal rasa penasaran, saya langsung cari kanal mereka di YouTube dan akun Soundcloud-nya. Akhirnya saya sampai di akun Soundcloud Tigapagi dan mendengar single album mereka, Alang-Alang. Seketika itu juga naksir banget.

Saya pun kemudian memesan album mereka ke Helat Tubruk. Empat hari kemudian, CD-nya sampai. Kemasannya super unik. Ini sudah banyak dibahas, sih, tapi mungkin ada yang belum tahu. Tigapagi nggak hanya ngasih pendengarnya sekeping CD, tapi juga booklet berisi foto-foto personil dan ucapan terima kasih, secarik kertas berisi lirik lagu, dan amplop berisi potongan-potongan kertas yang menggambarkan ilustrasi kisah dari lagu-lagu di album Roekmana’s Repertoire. Semuanya dikemas dengan latar tahun 1965, makanya foto dan ilustrasi di dalam kemasan album ditempel secara manual (dengan lem dan selotip).

Setelah selesai asik dengan packaging album, saya pun memutar CD-nya. Isinya 14 lagu dalam satu track, jadi lagunya saling bersambung gitu. Sebelumnya saya nggak baca review dari album tersebut, jadi begitu dengar Alang-Alang (lagu pertama) yang langsung nyambung ke lagu kedua, Erika, saya lumayan terkejut dan takjub (dalam hati: lho, lho, lho kok udah lagu kedua?). Dan nyambung terus seterusnya sampai lagu terakhir dengan transisi antarlagu yang smooth. Sependengaran saya sih keempatbelas lagu mereka diwarnai dengan nuansa yang cenderung gelap (terasa dari nada-nada minor dan liriknya), serta unsur musik Sunda yang terdengar cukup kental. Album Roekmana’s Repertoire ini juga dinobatkan sebagai album Indonesia terbaik nomor 2 tahun 2013 versi majalah Rolling Stone Indonesia, dan masuk juga sebagai nominasi untuk kategori yang sama di majalah TEMPO.

Karena kekaguman saya pada musik Tigapagi, saya pun memutuskan untuk menjadikan mereka sebagai narasumber untuk majalah yang dua bulan lalu saya buat sebagai final project di bangku kuliah. Senang juga bisa ketemu dan ngobrol sedikit sama Sigit (vokalis) seusai nonton penampilan mereka di Joyland Festival 2013. Hasil wawancaranya saya padukan dengan beberapa informasi yang sudah ada di webzine lain, kemudian saya masukkan sebagai artikel di prototype majalah yang hanya terpublikasi di perpustakaan kampus (mudah-mudahan kalau ada niat dan jalan, bisa dilanjutkan jadi majalah beneran). 

Wuoohh…. di akun twitternya, Tigapagi sering berharap albumnya bisa ngasih manfaat buat yang membeli dan mendengar. Buat saya, Roekmana’s Repertoire tentu saja berhasil memberi manfaat. Pengetahuan, hiburan berkualitas, dan nilai bagus untuk tugas akhir 😀 Terimakasih Tigapagi!

 

WE WILL NOT DIE OUR DAYS ARE MULTIPLIED

MEW. Ya. Judul di atas adalah penggalan lirik dalam lagu Apocalypso-nya Mew.

Dan pada Sabtu, 26 Oktober 2013, saya dengar dan lihat Jonas, Bo, dan Silas, bawain lagu itu di depan saya. Senangnya bukan main. Setelah melewatkan mereka di Java Rockin’ Land tahun 2009, akhirnya saya dikasih kesempatan nonton mereka (Puji Tuhan, Halleluya) di Guiness Arthurs Day 2013.

Demi lihat Mew sedekat-dekatnya, saya dan kawan-kawan rela sedikit dorong-dorongan supaya bisa maju sampai ke barisan paling depan. Tapi ternyata yang rela seperti itu bukan cuma saya. Banyak. Alhasil saya nggak berhasil berdiri di front row karena persaingan dengan frengers (sebutan untuk penggemar Mew) untuk mencapai barisan depan sangat ketat hehehe. Tapi lumayan lah saya bisa berdiri di bagian tengah, kira-kira di barisan keenam atau tujuh. Pandangan lumayan enak, meski kadang terhalang orang-orang berbadan jangkung di depan saya.

Mew malam itu bawain 17 lagu, yang sebagian besar lagu favorit saya (dan sepertinya favorit semua yang nonton). Special, The Zookeper’s Boy, Beach, Snow Brigade, She Spider, 156, New Terrain, Am I Wry? No, Eight Flew Over, One  Was Destroyed, dan Encore: Comforting Sounds, jadi yang paling berkesan di mata saya pada performa mereka saat itu. Walau udah malem (mereka mulai main pukul 23.30), mulai nguap-nguap, dan kaki lumayan pegel saya tetap memuja band asal Denmark itu dengan sumringahnya.

Saya masih ingat, paling ngotot ikut nyanyi saat Apocalypso, 156, dan Am I Wry? No. Ya.. lagu-lagu itu emang yang paling saya tunggu sih. Kapan lagi nyanyi berjamaah sama Jonas juga. Tapi scene yang paling mengharukan ya saat encore. Comforting Sounds. Semua nyanyi bareng. Bahkan saat lirik habis pun mulut-mulut bersenandung menirukan melodi gitar. Di sepanjang lagu, indofrengers meniupkan bubble. Sampai akhirnya di bagian akhir lagu ada hujan confetti. Merinding. Nggak terlupakan. 

Dari dulu saya bilang Mew jenius. Musik mereka sangat nggak sederhana, (kalau sependengaran saya) agak-agak experimental rock, progressive, dengan beat dan instrumen yang bikin emosi naik turun. Meski terdengar susah dan ribet, tapi terasa enak dan bisa dinikmati. Itu dia letak jeniusnya menurut saya. Nggak cuma enak untuk didengar, tapi juga enak dilihat langsung performancenya. Meskipun Jonas terlihat sedikit kaku, malu-malu, dan nggak terlalu interaktif dalam aksi panggungnya, saya sama sekali nggak bosan. Mungkin karena suara tinggi Jonas, permainan gitar Bo, hentakan drum Silas, serta piano dan bass dari additional player berpadu dengan harmonis.

Terlepas dari durasi yang kurang lama, banyaknya lagu-lagu favorit yang nggak dibawain, dan setlist yang agak-agak ketebak,  Mew sukses menyumbangkan senyum lebar di bibir saya. Senang sekali.

 

“We will not die our days are multiplied.” Ya, semoga hari-hari kita terus berlipat ganda  supaya bisa bertemu lagi (dengan Repeaterbeater, Introducing Palace Players, Silas The Magic Car, Do You Love It, Like Paper Cuts, Behind The Drapes, Wheels Over Me, Symmetry, …. semua… semua yang belum dibawain Sabtu kemarin) di Jakarta atau manapun. ❤

(Akhirnya) #SigurRosJKT!

Saat lihat Sigur Ros manggung langsung di depan mata, saya cuma bisa ngomong “Oh my God”, “Anjir”, “Gilak!”. Jumat, 10 Mei 2013, saat band post-rock asal Islandia ini (akhirnya) datang ke Jakarta, bisa saya nobatkan sbg salah satu hari paling istimewa dlm hidup saya. Akhirnya angan-angan untuk lihat langsung sajian audio visual mengagumkan (yang biasanya cuma lihat di YouTube) terwujud nyata.

 

Gila. Sigur Ros dan tim produksi-nya memang luar biasa. Mereka berhasil bikin saya malam itu merasa bukan sedang berada di bangku tribun Istora Senayan, tapi di dunia sendiri. Saya rasa Sigur Ros dan tim berhasil mengantar setiap penonton ke dunianya masing-masing sesuai imajinasi dan interpretasinya, melalui audio dan visualisasi yang disajikan. 

 

Tiap lagu disertai visualisasi yang keren banget. Di dua lagu pembuka, Sigur Ros di panggung ditutupi kain putih yg menampilkan visualisasi lagu. Di lagu kedua Ny Batteri, siluet Jonsi, Goggi, dan Orri muncul bergantian sesuai hentakan drum yang penuh energi di lagu tsb. Ini benar2 kayak pemanasan supaya siap masuk dan lihat dan dengar musik Sigur Ros sesungguhnya. Di akhir lagu Ny Batteri, tirai diturunkan, dan wujud asli mereka pun terlihat. Merinding.

Ny Batteri
Ny Batteri

Lebih merinding lagi saat Hoppipolla. Cuma di lagu ini penonton sing-along bareng, berusaha menyanyikan lirik dalam bahasa Islandia, hampir sepanjang lagu. Ditambah lagi visualisasi di belakang personil, yg seolah-olah seperti bintang/percikan api warna-warni. Di lagu Olsen Olsen muncul lagi choir dari penonton, mengikuti bunyi suling. Sigur Ros sampai ngasih waktu utk penonton senandung berjamaah dulu, lho. Aduh itu rasanya… 🙂

 

Terlalu banyak hal berkesan dari penampilan Sigur Ros malam itu, yang kalau diceritakan bisa panjang banget, atau malah pendek banget karena saya gak tau kata-kata yg tepat untuk mengungkapkan gmn kerennya malam itu. Yang jelas, dari sound, lighting, dan visualisasi, semuanya berkualitas tinggi dan sinkron banget. Semuanya terasa hampir sempurna.

 

Saya rasa Sigur Ros bukan sekadar main musik di tiap penampilannya. Ada jiwa di setiap lagu, yang bikin penonton bukan cuma ngerasa terhibur tapi jg masuk dan terlibat di setiap lagu. Rasa-rasanya, sih, ini yang bikin takjub dan beda suasananya dari konser-konser grup lainnya. 

 

Thanks a lot Sigur Ros for ±2 hours of eargasmic & eyegasmic performance. I was totally amazed!

Temu Kangen Sheila on 7

Kalau ditanya siapa band idola dari kecil sampai sekarang, dengan lantang saya akan jawab: Sheila on 7!

Kelas 3 SD saya sudah jatuh cinta dengan lagu-lagunya. Padahal lagu-lagu mereka mayoritas tentang cinta-cintaan yang tentu saja pada saat itu belum saya pahami. Saya juga gak tahu kenapa. Mungkin karena lagunya enak didengar, liriknya mudah dihapal, dan sering banget diputar di radio ataupun MTV :))

Saya dengar album-album mereka, mulai dari yang berjudul Sheila on 7, Kisah Klasik untuk Masa Depan, 07 Des, sampai Pejantan Tangguh. Setelah itu… sekitar tahun 2006 (zaman SMP) saya sudah gak terlalu nyimak lagi, sih. Mungkin karena udah banyak band Indonesia lain yang narik perhatian saya, kayak The Upstairs, Goodnight Electric, Sore, dan White Shoes and The Couples Company. Hahaha.

Masa-masa ter-ngefans sama Sheila on 7 itu memang pas SD. Kelas 4 SD bahkan saya pernah nonton mereka manggung di Sarinah, tepat di hari Valentine. Astaga, itu kalau diingat-ingat lucu juga. Bisa-bisanya anak kelas 4 SD gaya-gayaan nonton band kondang di kafe yang isinya orang dewasa semua hahaha.

Itu pertama kalinya saya nonton Sheila on 7. Tiba-tiba ketika sudah kuliah, saya dipertemukan lagi dengan mereka di acara Sinofest XII garapan mahasiswa Sastra Cina UI, 26 April 2013 lalu. Dan itulah kali kedua saya nonton Sheila on 7.

Senengnya luar biasa!! Mereka ngebawain lagu-lagu hits lawas favorit saya (dan mungkin favorit semua orang) seperti Seberapa Pantas, Kita, Bila Kau Tak di Sampingku, Pria Kesepian, juga lagu-lagu yang agak baru, seperti Yang Terlewatkan dan Hari Bersamanya. Gak ada satupun yang gak nyanyi malam itu. Terbukti, memang Sheila on 7 adalah salah satu band favorit abadi. Terlihat dari lagu-lagunya yang walaupun udah lama tapi liriknya gak dilupain orang-orang.

Penampilan Duta, Eross, Adam, dan Brian di atas panggung pun sangat gak mengecewakan. Walau umur makin dewasa, tapi tetap enerjik dan berkualitas, sama kayak waktu saya nonton 12 tahun yang lalu :))

 

Salihara Jazz Buzz: Ligro

Sabtu sore, 9 Februari 2013, di tengah hujan saya berangkat ke Salihara untuk hadir di program Jazz Buzz yang malam itu menampilkan sebuah trio Ligro. Katanya sih om Adi Darmawan (bass), Agam Hamzah (Gitar) dan Gusti Hendy (drum) mendefinisikan diri mereka sebagai ‘Orgil’ (orang gila), makanya trio-nya dinamakan Ligro. Silakan cari tahu sendiri apa hubungannya. Yang nemu dikasih jempol aja. Hahaha.

Yang jelas dari penampilan mereka dua minggu yang lalu (dari hari tulisan ini dibuat), kesan saya beliau-beliau ini emang beneran orgil. Gila dalam arti positif, ya. Gila main musiknya. Gila dalam skill dan kreativitas. Awalnya saya kira saya gak akan terlalu sreg sama penampilan Ligro malam itu, karena kentalnya musik rock dalam suguhan musik jazz-nya. Ya… karena dari nonton acara jazz yang saya harapkan selain hiburan tentu saja alunan yang enak dan mudah ditangkap telinga saya. Akan tetapiii… saya salah. Walau unsur rock-nya kuat, Ligro berhasil bikin telinga dan mata saya nggak capek bekerja. Mungkin Ligro berhasil mengemasnya dengan baik, sehingga orang yang gak terlalu suka rock yang kuat pun bisa turut menikmati campuran musik jazz dan rock dengan tambahan musik etnik ala mereka. Sebagai bagian dari performance dan mungkin bagian dari tambahan instrumen juga, ada pula adegan mereka gergaji-gergaji gitar, naburin paku, ngibarin seng, dan mecahin gitar. Ligro emang kaya instrumen dan… Unik 🙂

Penampilan terfavorit saya dari Ligro malam itu adalah saat mereka memainkan lagu Radio Aktif. Judulnya agak ngeri, tapi rupanya lagunya tak semengerikan judulnya. Malah enak di kuping. Sayang belum ada video waktu mereka tampil di Jazz Buzz Salihara. Buat yang penasaran, saya kasih video penampilan Ligro di Bentara Budaya aja, ya.

Kalau pas di Salihara sih ada adegan tiga om hebat ini nyalain radio secara acak sebagai pengiring mereka main musik. Jadi benar-benar ada radio aktif lah di penampilan mereka itu, hehe.

Tapi malam itu Ligro nggak tampil bertigaan aja, tapi ditemani dengan beberapa pemain instrumen lain yang menambah kemegahan permainan musik mereka. Ligro juga terdengar lebih manis dengan kehadiran Ade Irawan (piano) dan Dika (violin) di beberapa lagu. Ade dan Dika ini sangat talented, walaupun masih sangat muda dan pada diri Ade ada keterbatasan fisik, tapi jado banget mengiringi Ligro yang sudah handal.

Satu lagi, untuk nonton mini konser se-oke ini, saya hanya perlu bayar Rp 35.000,-! Murah banget. Tapi itu harga pelajar&mahasiswa sih. Untung saya masih mahasiswa hihi.